Muslimah Itu Harus Kalem, Gak Boleh Cerewet???



Pernah gak sih beranggapan kalau islam itu kaku termasuk bagaimana kita harus bersikap. Apalagi jika kita muslimah dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Apakah islam menghendaki para perempuan untuk kalem, gak banyak bicara, cuek dan tegas? Bahkan ada yang pernah beranggapan bahwa dia belum bisa menjadi muslimah seutuhnya karena sangat cerewet, banyak bicara, tomboy dll. Katanya, ia belum bisa seperti muslimah-muslimah lain yang lembut, feminim dan santun. Dia menjadi ragu akan dirinya apakah bisa hijrah. Padahal kita tidak harus mengubah diri kita seutuhnya. Nah, apakah para muslimah harus memiliki karakter dan kepribadian yang sama? 

Kali ini saya tertarik untuk membahas mengenai kepribadian. Kepribadian mungkin menjadi daya tarik mengapa orang lain ingin mengenal kita atau bagaimana orang lain memperlakukan kita. Biasanya kesan pertama yang tercipta ketika bertemu seseorang adalah tampilan luarnya. Tetapi yang menentukan kelak adalah kepribadiannya. Dalam buku Personality Plus karangan Florence Littauer dikenal empat macam kepribadian, yakni kepribadian melankolis, plegmatis, koleris, dan sanguinis. Tapi kali ini saya tidak akan membahas itu. Tapi, saya akan fokus tentang kepribadian yang senantiasa diridhoi Allah, yaitu kepribadian islam.

Saya ingin bertanya kepada kalian yang sudah mengaji islam, entah namanya tarbiyah, halqoh, liqo, ngaji dll. Apa yang Anda rasakan setelah melalui serangkaian proses itu? Adakah yang berubah dari diri Anda? Sebenarnya tidak terlalu banyak yang berubah kan? Yang cerewet, mungkin masih tetap cerewet, yang pendiam mungkin masih tetap pendiam. Tapi yang membedakan adalah kita mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak disenangi islam. Contoh yang paling dekat adalah kita tidak lagi mengenal istilah pacaran. Kita justru malah menundukkan pandangan, menjaga hati, menghindari interaksi yang tidak dibolehkan dsb.

Mari kita mengubah paradigma tentang kepribadian. Kita tidak akan membahas mengenai kepribadian yang ditawarkan dalam buku Personality Plus atau dari teori-teori kepribadian milik Sigmeund Freud. Kita akan memakai standar islam. Jadi pada dasarnya, dalam islam hanya ada dua kepribadian, yakni kepribadian islami dan bukan islam.

Sesungguhnya Allah tidak menilai atas rupamu serta harta kekayaanmu, akan tetapi dia hanya menilai hati dan amal perbuatanmu (HR. Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Dari hadis di atas betapa pentingnya kita memiliki kepribadian yang baik. Karena Allah tidak menilai wajah dan harta kita, tetapi perbuatan kita. Lalu apa kaitannya dengan kepribadian? Menurut saya kepribadianlah yang membuat orang memiliki prinsip hidup yang jelas. Kali ini saya akan mengerucutkan pembahasan kita khusus untuk para muslimah. Setiap muslimah idealnya memiliki kepribadian islami. Kepribadian yang berdasarkan nilai-nilai islam. Kepribadian yang tidak melenceng dari aturan Al Qur’an dan As- Sunnah.

Kecantikan dan ketampanan akan pudar ditelan waktu. Tapi, kepribadian tidak akan memudar selama kita senantiasa meng-upgrade-nya sesuai perintah Allah. Sebagai seorang muslimah yang beriman kepada Allah dan Rasulullah, hendaknya kita terus memperbaharui kondisi hati dan pikiran kita hanya mengharap ridho Allah.

Ada begitu banyak karakter yang tercipta di dunia ini. Saya memang belum membaca teorinya, tapi sepemahaman saya, ada karakter bawaan dan ada juga yang terbentuk karena lingkungan. Semua itu berjalan alamiah. Tapi kemudian yang akan membuat kita mulia di mata Allah adalah sejauh mana kita mampu menyenangkan Allah dengan perilaku kita. Lalu apa yang akan membuat kita dicintai oleh Allah dan layak mendapat surga Allah kelak? Yaitu ketakwaan kita kepadaNya. Satu-satunya cara meraih ketakwaan adalah dengan berilmu. Mengetahui apa saja yang dilarang dan diperintahkan oleh Allah swt.

Ilmu akan membentuk kepribadian seseorang. Untuk memiliki kepribadian islami, hendaknya kita mempelajari bagaimana islam menginginkan wanita berperilaku. Kita tidak menuntut semua muslimah berkepribadian sama. Tentu saja itu mustahil. Para sahabiyah juga memiliki karakter yang berbeda-beda. Tetapi mereka tercelup dalam islam. Mereka tetap memiliki kepribadian islam. Seorang muslimah tidak dilarang untuk sanguinis, melankolis, koleris, ataupun plegmatis. Tapi, seorang muslimah harus tahu batas-batas syariat. Yang mana yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram ia lakukan. Ia harus tahu kondisi kapan harus bersikap cerewet, kalem, tegas dll.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Akal perempuan ada pada keindahannya dan keindahan laki-laki ada pada akalnya.” Sebenarnya saya tidak mutlak mengerti apa maksudnya. Kata-kata Ali bin Abi Thalib sangat “nyastra” saya sulit menjangkau kedalaman pikirannya. Apalagi menafsir kalimat tersebut. Jika boleh berpendapat, saya akan menafsirkan bebas seperti ini seorang perempuan menunjukkan kecerdasan akalnya melalui keindahannya seperti kehalusan perasaannya, tutur katanya, dan kelembutan perilakunya.

Perempuan memang selalu identik dengan menggunakan perasaannya. Tapi dalam hal tertentu, perempuan juga harus memposisikan dirinya sebagai hamba yang dianugerahi akal untuk berpikir. Seorang muslimah seharusnya juga menyumbangkan pemikirannya untuk umat ini. Allah menciptakan akal pada perempuan tidak ada bedanya dengan laki-laki. Kita dituntut untuk menggunakan akal kita untuk berpikir. Mencari solusi islami atas setiap permasalahan yang ada. Akal ibarat chip yang dititipkan Allah untuk menuntun gerak langkah kita. Alangkah sayangnya, jika para muslimah hanya menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang menghambat perbaikan dirinya. Muslimah dibutuhkan kehadirannya untuk melakukan ishlah (perbaikan) di kalangan masyarakat. Saya seorang muslimah dan saya juga masih belajar, belajar, dan terus belajar. Allahu ‘alam.

Photo credit: Maslihatul Bisriyah

Menikah Muda atau Menikahlah Ketika Siap



Semua pasti sudah paham bahwa pernikahan adalah ibadah. Siapa yang tidak ingin menikah akan dipertanyakan penghambaannya. Saya pikir semua orang yang normal memiliki niat untuk menikah meski belum tahu kapan waktunya. Kalau akhir-akhir ini kamu sering mendengar frase “nikah muda” mungkin karena istilah ini lagi tren. Apalagi di kalangan perempuan dan lelaki yang lagi semangat-semangatnya belajar agama atau mungkin yang baru saja hijrah. Alhamdulillah ini sebenarnya adalah kecenderungan yang positif. Banyak yang sudah tercerahkan untuk tidak pacaran.

Hanya saja niat menikah muda tetap perlu diperhatikan kembali. Saya juga bukan menentang nikah muda. Tapi, esensi nikah muda seolah-olah telah menjadi tren yang memprovokasi bukan mengedukasi. Sekarang cukup menjamur muslim dan muslimah yang ngebet nikah muda. Saya tidak tahu apakah ini karena akun-akun di sosial media yang cukup masif mengampanyekan ini. Apalagi beberapa selebgram yang terus-menerus mempromosikan kemesraan. Sehingga banyak orang yang mudah baper berjamaah hehe. Ada yang baru aja hijrah, baru aja mulai belajar islam sudah kepengen nikah muda. Ada yang masih SMA sudah mulai kepikiran tentang nikah. Padahal pernikahan tidak sesederhana itu.

Sejauh ini saya setuju dengan kampanye kesadaran tentang haramnya pacaran dan nampaknya berhasil. Banyak orang yang sudah sadar tentang negatifnya pacaran, selain karena itu dosa. Tapi tidak pacaran bukan berarti solusinya selalu nikah muda. Menikah bukan tentang tersalurnya perasaan saja, bukan tentang perasaan dan cintanya yang sudah halal, bukan tentang bahagia dan indah-indahnya saja. Menikah itu butuh ilmu. Butuh persiapan. Butuh kematangan mental, finansial dsb. sebab ujiannya besar. Kematangan finansial maksud saya di sini bukan harus semapan-mapannya, tapi keyakinan diri sudah mampu menafkahi. 

Tren nikah muda hendaknya jangan diprovokasi. Ajaklah para remaja, muda mudi untuk berpikir lebih holistik tentang menikah. Fokus terhadap edukasinya. Bagaimana mempersiapkan diri sebelum menikah. Agar remaja lebih fokus mengisi penantiannya dengan bercita-cita tinggi, melejitkan potensi diri. Menambah ilmu terutama ilmu agama. Memikirkan tentang masalah umat, melakukan aktivitas bermanfaat, dan fokus cari duit (terkhusus laki-lakiπŸ˜…). Bukan buru-buru pengen nikah karena tak sabar untuk segera pacaran setelah nikah. Melegalkan perasaan dsb. Semoga niat seperti ini bisa diluruskan. Jika sekiranya ingin menikah muda tolong luruskan niatnya karena Allah, jangan ikut-ikutan tren. Jangan hanya karena provokasi.

Menikah itu anjurannya memang disegerakan tapi bukan berarti tergesa-gesa. Bukan cepat-cepat menikah tapi menikahlah ketika siap. Jika kamu menggunakan istilah bersegera, kamu akan berupaya untuk menambah ilmu dan kesiapan karena kamu ingin memantaskan diri dulu sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Kamu tidak fokus pada dorongan biar segera halal. Karena motifnya bisa berbeda. Kamu berniat menikah karena perintah Allah dan Rasul-Nya, karena ibadah. Jika seperti itu, kamu menggunakan potensimu untuk meningkatkan kapasitas keilmuan, agama, psikologi, dan finansial. 

Nah, kesiapan seseorang ini tentu berbeda-beda. Ada yang menikah muda karena mereka memang telah memiliki bekal yang cukup. Usianya boleh sangat muda tetapi mereka telah siap, matang, dan dewasa baik secara keilmuan dan finansial. Saya sendiri dan suami bukan termasuk orang yang menikah muda. Bahkan usia kami sepertinya sudah melewati batas ideal usia rata-rata orang ingin menikah. Mungkin kami termasuk orang yang menikah ketika telah siap atau sudah sangat layak haha. Atau jodohnya baru dibukakan pada usia itu 😊. Saya lebih setuju jika kita menggunakan frase “menikahlah ketika siap.” Jika kamu telah benar-benar siap, usia muda bukan lagi penghalang. 

Jika kita menikah ketika telah siap, kita tidak lagi terkejar-kejar dengan zona waktu orang lain. Kita punya harapan-harapan tersendiri kapan memutuskan ingin menikah. Ketika kita menikah karena sudah siap, kita tentu punya banyak bekal memasuki kehidupan rumah tangga. Meski sebenarnya kesiapan itu tergantung cara kita menjalani kehidupan. 

Mungkin kecenderungan orang Indonesia ingin menikah pada usia 23-27 bagi perempuan, dan 25-30 bagi lelaki. Bahkan banyak yang lebih muda. Apakah usia itu adalah usia yang tepat? Saya tidak bisa memberi pembenaran. Karena setiap orang punya pengalaman hidup masing-masing dan kita tidak bisa menilai mengapa seseorang cepat atau lambat menikah. Setiap orang punya harapan dan kisah hidupnya. Semoga setiap pilihan hidup kita dilandaskan karena perintah agama. Semoga kamu memutuskan berumah tangga karena memang telah siap untuk menikah. Mari kita pelajari lagi makna kesiapan. Karena rumah tangga adalah perjalanan panjang yang membutuhkan banyak ilmu. Sampai sekarang pun saya masih merasa kekurangan ilmu berumah tangga.

Jadi kapan waktu yang tepat untuk menikah? Yup, jika kamu sudah siap. Segeralah berusaha. Temukan jalan dimana jodoh itu bisa datang 😊

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Ramadan Day 11, 1439 H.

Photo credit: Maslihatul Bisriyah

Apakah Kamu akan Memilih Wanita Berpendidikan Tinggi atau Wanita Taat?



Katanya ada banyak lelaki yang merasa terganggu dengan kecerdasan perempuan dan umumnya mereka menginginkan perempuan yang penurut. Seolah-olah penurut itu selalu disandingkan dengan perempuan yang tidak terlalu tinggi pendidikannya. Atau biasa-biasa saja dalam kiprahnya. Mungkin dalam pandangan umum lelaki, perempuan berpendidikan tinggi akan sulit diatur. Di luar sana, akan ada perempuan yang merasa tersinggung karena ingin berpendidikan setinggi-tingginya tetapi juga ingin menjadi wanita setaat-taatnya.

Banyak pula lelaki yang keder jika tertarik dengan wanita yang lebih tinggi status pendidikannya ataupun status sosialnya. Mereka perlahan mundur. Padahal bisa jadi si perempuan tidak berpikiran yang sama. Mereka bisa jadi ingin mengenal kepribadian lelaki tersebut. Maka, untuk para perempuan yang berpendidikan tinggi dengan usia yang mungkin sudah layak menikah. Tidak usah khawatir. Akan ada lelaki yang pantas bersanding denganmu. Allah sebaik-baik yang memasangkan HambaNya.

Yang perlu kita renungkan adalah berpendidikan tinggi itu bukanlah sesuatu yang mesti terlalu dibanggakan. Atau jika status sosialmu lebih tinggi. Sehingga membuatmu memandang rendah siapa pun yang ingin berkenalan denganmu. Kesempatan menuntut ilmu lebih banyak, lebih tinggi tentu sangat layak disyukuri. Setinggi-tingginya pendidikan seorang perempuan akan kalah dengan setaat-taatnya perempuan. Taat di sini maksudnya, taat pada Tuhan, aturan agama, termasuk taat pada suaminya selama perintah suaminya tidak melanggar syariat. Jadi fokus dan tujuan kita sebagai perempuan mestinya menjadi wanita shalihah. Pendidikan kita adalah jalan untuk menjadikan kita semakin taat bukan semakin membangkan.

Jika pendidikan tinggi dan ketaatan itu dimiliki sekaligus akan lebih baik. Bukankah menuju taat itu ilmu sangat penting. Bukankah pula ilmu itu tidak dinilai dari pemahaman semata tetapi pengamalan dan kebermanfaatan. Selanjutnya, hulu dari segala ilmu adalah amal jariyah. Kalau berpendidikan tinggi menjadikan seorang wanita lebih bermanfaat, terhormat, menyadari perannya dan menghargai serta menghormati lelaki sepertinya lelaki tidak perlu takut dengan pendidikan tinggi wanita.

Menurut riset (Feldhahn,
2016) naluri laki-laki itu salah duanya adalah "men need respect" and "men are providers" maksudnya apa? Laki-laki itu lebih baik merasa tidak dicintai daripada tidak dihargai. Kedua, meskipun seorang istri bisa independen secara finansial, bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga, beban mental lelaki sebagai "provider" dalam keluarga itu tetap ada. Jadi, perempuan kalau mengabaikan naluri ini, wajar laki-laki merasa tersinggung hehe. Pengambilan sample riset ini dilakukan di Amerika. Bukan di kalangan muslim saja. Jadi, fitrah lelaki ini tidak mengenal agama, budaya, kebangsaan, ataupun ideologi.

Bahkan mungkin ada juga wanita-wanita yang pendidikannya tidak begitu tinggi, tetapi sangat dominan. Pendidikan tinggi atau gelar akademik tidak menentukan wanita itu dominan atau submisif. Bukan berarti istri itu harus total submisif. Istri tetap harus punya voice, apalagi kalau menyangkut urusan-urusan halal dan haram, hukum syara' dalam mengambil keputusan bersama untuk kemaslahatan keluarga. Pendidikan tinggi semestinya menjadikan wanita lebih pandai mengungkapkan pendapat, lebih nyambung berdiskusi dengan laki-laki, punya ide dan solusi ketika menghadapi masalah yang menyangkut ketahanan keluarga dari ujian-ujian internal maupun eksternal. Bukan bermaksud dominan dan superior terhadap lelaki. Bukankah dalam islam sebenarnya lelaki dan wanita tidak ada bedanya di hadapan Tuhan kecuali ketakwaan.

Kita tidak berlomba-lomba siapa yang paling tinggi pendidikannya, siapa yang paling banyak penghasilannya, siapa yang paling bagus pekerjaannya. Alangkah rendahnya kalau niat hidup kita hanya berlomba dalam perkara seperti ini. Seolah-olah wacana seperti ini malah memunculkan persaingan antara lelaki dan perempuan, bukan sinergi. Allah hanya memerintahkan kita berfastabiqul khairat.

Jadi, wanita tidak perlu berhenti menuntut ilmu hanya karena takut tidak ada lelaki yang berani melamar. Lelaki, jangan takut melamar perempuan berpendidikan tinggi karena merasa insecure atau inferior. Pendidikan tinggi semestinya menjadikan perempuan dan lelaki lebih pandai menutupi dan melengkapi kekurangan masing-masing. Satu lagi mintalah nasihat dari para guru teladan dan pelajarilah bagaimana kehidupan rasulullah, para sahabat, sahabiyah, ulama-ulama terkemuka, dan guru-guru teladan itu.

Selanjutnya, masih ada kuasa di atas kuasa. Allah yang paling tahu makna "ketepatan" dan "kepantasan."  Bukan asumsi-asumsi manusia. Buktinya banyak lelaki yang menikah dengan wanita yang jauh lebih tua, banyak juga wanita yang menikah dengan lelaki yg jauh lebih tua. Ada pula suami yang pendidikannya lebih rendah dari istri. Justru mereka bahkan membantu istri mereka menyelesaikan pendidikannya. Pun sebaliknya. Dan mereka tetap harmonis. So, judgement yang paling normatif adalah jodoh sudah diatur oleh Tuhan hehe.

"Sesungguhnya kewajiban yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu adalah mengobati niat, memperhatikan kebaikannya, dan menjaganya dari kerusakan" (Ust. Yazid Jawash).


Oh ya terakhir, pilihlah suami seperti suami saya yang selalu siap mendukung kemajuan istrinya :) :) Alhamdulillah...

Ramadan Day 8, 
1439 H.
Tulisan yang direvisi kembali. 

 
Photo Credit: Maslihatul Bisriyah

Pernikahan: Rumah Terbaik Meneduhkan Rasa


Barangkali perjalanan panjang cinta dimulai dari pernikahan. Pasangan yang menjalin cinta sebelum pernikahan sejatinya sedang membangun rumah yang sewaktu-waktu bisa roboh karena pondasi yang tidak kuat. Sewaktu-waktu penghuninya bisa kabur karena sudah tak nyaman di rumah. Hubungan yang hanya sewaktu-waktu.

Sementara pernikahan adalah awal sebuah perjalanan panjang yang tujuannya menembus dimensi. Kita menyebutnya surga. Dan jalan-jalan menuju surga tidak seindah imajinasi kita tentang surga itu. Tidak semulus jalanan yang berhamparkan permadani. Tetapi, bukankah dengan agama kita bisa melewati setiap liku jalannya?

Pernikahan adalah rumah terbaik dimana kita meneduhkan rasa yang sebelumnya gagu untuk kita perbincangkan, atau menenangkan kerinduan yang dulunya tak tahu untuk siapa. Pernikahan adalah kapal yang hanya akan selamat jika penumpanya saling bekerja sama untuk mengarahkan kapal hingga sampai ke tujuan yang benar.


Tapi, kapal itu butuh penunjuk arah agar terhindar dari ketersesatan. Agar selamat mengarungi samudera. Penunjuk arah itu adalah pemahaman agama yang baik. Kita akan terus belajar sampai kapal kita tiba dengan selamat. 


Ramadan Day 6, 1439 H 

photo credit: Maslihatul Bisriyah

Semakin Sama Visimu, Semakin Mungkin Kamu Berjodoh




Bagaimana cara mengetahui bahwa dia adalah jodoh yang baik untukmu?

Baik yang pacaran apalagi yang tidak pacaran, masalah jodoh tetaplah misteri. Yang berpacaran pun belum tentu tahu bahwa pasangannya sekarang adalah jodoh terbaik. Karena biasanya, hubungan seperti ini penuh kepalsuan. Mereka selalu menampilkan kebaikan dan menyembunyikan sisi-sisi negatifnya. Kita belum bisa mengenal seseorang sampai kita hidup bersama. 

Melalui tulisan ini, setidaknya saya akan mencoba memberi tips bagaimana mengetahui apakah dia cocok untukmu. Tetapi kamu harus ingat kata Khalil Gibran, bahwa cinta itu bukan lahir dari perkenalan yang lama tetapi kecocokan jiwa. 

"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad." - Khalil Gibran-

Nah bagaimana kamu bisa mengenal kecocokan jiwa ini? Kenali visi dan misi si dia. Semakin sama visimu, semakin mungkin kamu berjodoh. Saya akan mulai dengan kisah saya. 

Sejujurnya saya mengenal suami sudah bertahun-tahun lamanya. Tapi tidak pernah ada komunikasi dan kontak. Kalau dari versi saya, saya bertemu pertama kali di acara English Corner di TVRI Makassar. Waktu itu saya jadi bintang tamu karena baru pulang dari Amerika, sekitar pertengahan 2011. Dan jreng..jreng dia adalah presenternya 😜 Impresi saya waktu itu, "Ini orang kok cerewet banget ya😏" Haha.. Tapi wajarlah pembawa acara memang harus cerewet. Dan ternyata si suami tidak ingat momen ituπŸ˜’. Lalu, versi dia. Katanya kita bertemu pertama kali di acara reuni sesama alumni beasiswa Amerika di salah satu mal di Makassar. Dan saya tidak ingat sama sekali kejadian tersebut πŸ˜….

Saya jadi ingat kutipan tulisan saya di buku Musim Penantian, "Bisa jadi jodoh serupa itu, ada kisah kita yang beririsan di masa lalu." Dan betul itu terjadi dalam diri saya πŸ˜‡. Saya dan suami memang punya irisan di masa lalu. 
 

Waktu berlalu. Sampai pada akhirnya kita bertemu kembali di grup WA LPDP LN Makassar tahun 2015. Waktu itu si suami memperkenalkan diri karena baru jadi awardee. Sementara saya tinggal menghitung hari berangkat ke Melbourne. Duh kayak kenal orang ini. Dan akhirnya aku sapa. Waktu itu entah kenapa seperti sudah kenal lama padahal baru ketemu face to face sekali doang. Singkat cerita, sampailah takdir mempertemukan kami di kota Melbourne 2016-2017.

Nah, kita lanjut pembahasan tadi. Kami memang taarruf seperti orang pada umumnya, tukar biodata dengan perantara ustadz, tapi saya sudah kepo tentang visi orang ini. Saya menemukan kesamaan banyak hal dari cara kita memandang sesuatu. Saya tidak perlu berkompromi tentang pemikiran-pemikirannya. Bagaimana dia memandang sesuatu, begitu pula saya memandangnya. Itu dari perspektif saya sih, entah apakah dia merasa sevisi dengan saya πŸ˜‚. Mungkin sederhananya, tidak banyak hal yang dipertentangkan. Saya pun berpikir, mungkin Tuhan menjodohkan saya dengan suami karena alasan-alasan di atas. Semakin sama visimu, semakin mungkin kamu berjodoh.


Jadi, saran saya, kamu perlu kepo sedikit tentang visi dan misinya. Bisa melalui pertanyaan langsung, perantara, atau gunakan skil kepo di medsos πŸ˜†. Tetapi, ini tidak boleh dijadikan pegangan. Karena mungkin saja ada orang sudah merasa visi dan misinya sama tetapi belum berjodoh. Meski saya selalu melihat di sekitar saya, teman-teman, senior-senior dan junior-junior yang pada akhirnya berjodoh karena memang memiliki visi dan misi yang sama. Tidak banyak hal yang dipertentangkan. Benar kan?

Tulisan ini bukan bermaksud mengabaikan akhlak dan agama ya. Karena karakter tidak seperti visi yang bisa disamakan. Karakter perempuan dan lelaki pasti berbeda. Tapi, saya berusaha mencari ruang kesesuaian yang bisa kita bayangkan akan seperti apa menjalani kehidupan ke depan. Mempelajari visi dan misi calon pasanganmu sangat mungkin mendatangkan kecocokan yang kamu harapkan. 
 
Selanjutnya, jangan pernah lupa, istikharah adalah cara meminta yang paling indah. Jika memang semakin didekatkan Insyaallah dialah jodoh terbaik. Tetapi, jika semakin dijauhkan, mungkin belum berjodoh. So, kenali baik-baik visi si dia ya πŸ˜‰

Ramadan Day 4, 1439 H
Ditulis dalam perjalanan Polewali-Majene πŸ˜… 
Hari minggu tetap mengajar demi kebahagiaan mahasiswa yang mau cepat-cepat pulkam.


photo credit: Maslihatul Bisriyah 

Kamu Pun Bisa Kuliah ke Luar Negeri




Tulisan ini saya buat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan beberapa mahasiswa saya, “Bagaimana caranya bisa kuliah di luar negeri, Bu?”

Dan tidak sesederhana yang kalian bayangkan untuk bisa menjawab pertanyaan dari anak daerah dengan berbagai keterbatasan yang mereka hadapi. Saya akan mulai menguraikan satu per satu mengapa setiap orang bisa meraih cita-citanya, termasuk kuliah ke luar negeri. Dan tulisan ini akan memberikan tips yang mungkin kebanyakan saya singgung dari perspektif psikologi. Tulisan ini adalah motivasi secara umum yang belum saya jabarkan langkah-langkah praktisnya.

Tidak semua orang memiliki kesempatan bisa kuliah ke luar negeri. Dan ini sangat saya syukuri mengingat saya besar di daerah yang bisa dibilang akses informasi pendidikan sangat terbatas. Beruntung bisa kuliah di salah satu universitas ternama. Akhirnya bisa bertemu dengan orang-orang yang punya semangat juang untuk meraih prestasi dan berkompetisi secara positif.

MINDSET

Baiklah, saya akan mulai dari bagaimana kamu mesti menghapus mental block dari dalam dirimu bahwa kamu “TIDAK BISA.” Semua orang memiliki kesempatan yang sama. Semua orang memiliki waktu dan potensi yang sama asalkan kamu mau berjuang. Ketika mahasiswa saya menanyakan hal tersebut, saya kemudian bertanya, sudah berapa buku yang kamu baca? kalau pada kenyataannya mereka masih malas membaca, malas menambah ilmu, saya tidak akan lanjut dengan nasihat bahwa kamu harus punya skil bahasa asing. Jika “mindset” saja belum terpola dengan baik, akan sulit bagi kamu untuk bertahan dalam perjuangan ini. Maksud saya daya juang untuk maju dan daya tahan dalam proses ini yang belum dimiliki. Memotivasi mereka yang seperti ini harus dimulai dengan mengubah mindset. Bukan karena mereka tidak bisa dan tidak mau, tetapi mereka belum terbiasa dengan kultur belajar dan berkompetisi.

BAHASA

Nah, jika mindset pembelajar sudah dipahami dan diaplikasikan, saya akan mencoba memberi solusi bahwa kamu harus bisa menguasai bahasa internasional. Banyak orang yang ingin sekali ke luar negeri. Tetapi, ketika ditanya bagaimana dengan kemampuan bahasanya, belum bisa menjawab apa-apa. Padahal kunci dasarnya adalah kemampuan berbahasa asing, minimal bahasa inggris. Untuk belajar bahasa asing tidak didapatkan dalam waktu singkat, tetapi bertahun-tahun. Jadi, anggap sekarang kamu masih duduk di semester 2 atau 4, maka pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar bahasa inggris hingga kamu bisa cakap ketika lulus kuliah. Karena kamu akan berkenalan dengan tes seperti TOEFL dan IELTS. Tes ini adalah tiket masuk kuliah ke luar negeri. Tes seperti ini tentu sangat sulit bagi pemula yang baru belajar bahasa inggris. Ada banyak cara mudah dan murah belajar bahasa Inggris. Dengan memanfaatkan media sosial kamu bisa mendapatkan platform belajar bahasa dengan gratis. Kuncinya adalah bersungguh-sungguh.

FINANSIAL (BEASISWA)

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan finansial. Kampus manapun sebenarnya bisa menerima kalian jika kemampuan finansialnya mumpuni, karena di sana juga ada istilah bridging (belajar bahasa inggris untuk mencapai standar sebelum masuk kuliah). Tetapi, rata-rata ekonomi rakyat Indonesia tidak mampu untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup di luar negeri yang pendidikannya bagus. Hanya sebagian kecil saja yang berangkat karena beasiswa dari orangtua. Oleh karenanya kita butuh beasiswa untuk mewujudkan mimpi kita bisa belajar ke luar negeri. Beasiswa tentu tidak bisa didapatkan dengan mudah. Karena para penyeleksi akan melihat track record kalian selama ini. Rekam jejak inilah yang menentukan apakah kalian layak jadi penerima beasiswa atau tidak. Bisa dibilang, seperti apa kalian menjalani hidup selama ini dibuktikan dengan curriculum vitae yang menerangkan keterampilan akademis, sosial, dan prestasi-prestasi kalian.

Maka sangat penting untuk mengubah pola pikir dan pola sikap sekarang juga. Jika masih malas-malasan. Seperti malas membaca, malas belajar, malas berdiskusi, malas cari informasi maka jangan harap kamu bisa menciptakan rekam jejak yang baik untuk kehidupan yang kamu impikan. Motivasi juga harus dijaga. Bisa dengan berkumpul dengan orang-orang yang punya semangat belajar, berprestasi dan meraih mimpi. Kuliah ke luar negeri sebenarnya bukanlah suatu keharusan. Tetapi, setidaknya memberikan pengetahuan baru dan pengalaman baru untuk bisa kita aplikasikan di tanah air. Sekaligus ini menjawab pertanyaan orang-orang kepada saya, “Kenapa kamu mau mengajar di daerah, sementara kamu lulusan luar negeri?” Hmm… ini bentuk tanggung jawab moral saya. Termasuk tanggung jawab kepada pemberi beasiswa. Setidaknya saya berbagi ilmu dan pengalaman dulu pada daerah tempat saya dilahirkan. Sejujurnya, saya tidak bisa memberikan apa-apa selain motivasi kepada mahasiswa-mahasiswa. Saya ingin sekali membuka cara pandang mereka, bahwa di luar sana dunia lebih luas untuk dijelajahi. 

Pada akhirnya kita butuh doa dan usaha yang baik. Usaha tidak akan sukses tanpa doa. Sama halnya doa tidak akan terkabul jika usaha biasa-biasa saja. Kita butuh dua modal ini untuk bisa meraih hal yang dicita-citakan. Dan kita harus mengerti bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Jadi jangan pernah menyerah jika masih gagal. Karena kegagalan sesungguhnya adalah jika kamu tidak pernah mencoba.

Ramadan Day 3 1439 H
Diberdayakan oleh Blogger.