Sebelum Kamu Menjadi Seorang Istri



Di sebuah grup online yang diisi wanita-wanita dewasa, terjadi perbincangan yang cukup acak. Di usia yang sudah matang untuk menikah, saya pikir bukanlah hal berlebihan kalau kita memang senang memperbincangkan ini. Saya tak pernah menyalahkan jika ada di antaranya yang selalu baper. "Baper" bisa jadi semacam pertanda bahwa Allah masih menganugerahi kita perasaan. Perasaan yang juga rindu menyempurnakan setengah agama. Jangan sampai Allah menarik perasaan semacam ini hingga tak lagi ingin menikah. Semoga yang sedang rindu menikah agar segera bertemu dengan jodohnya.

Ketahuilah mencari jodoh adalah ujian. Tidak ada kisah jodoh yang sempurna seperti di film-film romantis. Bertemu dengan jodoh yang tepat membutuhkan pengorbanan dan sedikit rasa tidak enak di hati. Patah hati itu biasa. Ketika kamu telah bersusah payah dan akhirnya gagal. Saya pikir, hampir semua wanita pernah ada di fase ini. Ada yang mencintai atau mengharapkan pria yang ternyata ditakdirkan untuk menjadi jodoh orang lain. Ada pula yang gagal dalam perkenalan-perkenalannya. Bisa jadi jodohmu juga sedang melakukan pengembaraannya untuk bertemu denganmu. Mereka juga merasakan jatuh bangun. Yang ia pun tak tahu bahwa dia sedang direncanakan untuk bertemu denganmu. Perjalanan jodoh selalu misterius bukan?
 
Bukankah tidak ada yang sia-sia dengan kesabaran. Kesabaran tidak akan membuahkan sebuah hasil melainkan kebaikan. Kelak kesabaranmu akan dihadiahi dengan sosok yang mungkin selama ini kau idam-idamkan. Jangan terburu-buru, jangan berputus asa. Berhati-hatilah dengan jeratan setan yang selalu mengembuskan was-was dalam dada manusia.

Sebelum kamu menjadi istri seseorang, tinggikanlah kesabaranmu, syukurilah keadaanmu. Jodoh itu akan datang setelah usaha dan doadoamu yang tulus dan sungguh-sungguh. Kesendirian memang ujian, mencari jodoh juga ujian, bahkan setelah berjodoh juga penuh ujian. Jadi apa yang mesti kita fokuskan? Maksimalkan peran yang kita lakoni sekarang. Perbanyak ilmu. Indahkan sabar dan syukur untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan hidup. Termasuk kemungkinan baik bertemu jodoh πŸ˜‰

photo credit: wallpoper.com

Mencintai Suami/Istri karena Allah



Keputusan yang paling penting dan mungkin sulit dalam hidup seseorang adalah memilih pasangan hidup. Karena bersamanya, kita tidak sedang menaklukkan dunia, tapi kita ingin memastikan hidup selamat dunia akhirat. Hingga ke surga.

Sampai saat ini jawaban yang paling masuk akal, kenapa memutuskan memilih seseorang, karena keyakinan bahwa dengan bersamanya surga terasa lebih dekat. 

Dulu sebelum menikah, saya sering bertanya-tanya. Apa yang dimaksud menikah karena Allah? Bagaimana saya akan memilih suami karena Allah. Bagaimana saya bisa memastikan bahwa saya memilih suami bukan karena hawa nafsu atau pertimbangan-pertimbangan dunia. Apakah saya sudah tepat memilih pasangan hidup karena agamanya.

Dalam teori mencintai, islam telah mengajarkan untuk mencintai siapapun dan apapun karena Allah. Tidak ada cinta yang abadi selain mencintai karena Allah. Selain Allah, segalanya adalah fana'. Mencintai karena Allah adalah yang mengantarkan hubungan suami istri senantiasa dalam keberkahan dan kelanggengan. Lalu bagaimanakah arti mencintai pasangan hidup karena Allah?

Dalam pengetahuan sempit saya, Mencintai Allah adalah melakukan segala hal yang dicintai Allah. Jadi jika suami/istri beriman, bertakwa, dan melakukan amalan-amalan yang dicintai Allah, maka kita mencintainya karena Allah. Karena Allah senang kepada orang-orang yang beriman, bertakwa, dan melakukan amalan-amalan salih.

Semakin dalam cinta suami atau istri kepada Allah, semakin kuat dan bertambah cinta kita kepadanya. Itulah mungkin maksud cinta kepada Allah. Maka sebagai suami atau istri, hendaknya kita senantiasa saling mendukung dalam ketaatan dan mencintai karena Allah. Cinta istri dan suami tertinggi jika membuat pasangan hidupnya semakin mencintai Allah dan mencari keridhoan Allah. Jika pasangan hidup tidak beriman dan bertakwa, berkurang dan hilanglah cinta kita kepadanya. 

8 Juli 2018, 3 bulan pertama pernikahanku.
 

Menikah, Mencari Partner dalam Bertakwa


Siapa yang pernah kagum jika melihat ikhwan atau akhwat yang dalam pandanganmu, baik agamanya, soleh atau soleha? Jika ada perasaan yang seperti itu, bisa jadi kamu sudah memiliki kecenderungan yang benar dalam memilih pasangan. Tapi, jangan diteruskan ya, nanti bisa menjadi zina hati hehe. Yang ingin saya tekankan adalah memilih pasangan hidup mesti dimulai jauh sebelum kita memutuskan untuk segera menikah. Koreksi niat di dalam hati. Miliki konsep diri yang baik dan buatlah perencanaan. 

Kecenderungan seseorang pada kebaikan itu memang fitrah. Termasuk dalam ketertarikan kepada lawan jenis. Ada yang pernah dengar bahwa lelaki yang mungkin pergaulannya kurang benar, sebenarnya mengingankan perempuan yang baik-baik. Sama halnya perempuan yang juga pergaulannya kurang baik, mendambakan lelaki teduh untuk menjadi pemimpinnya. Mungkin begitulah teori kenapa naluri itu memiliki kebenaran yang terdalam. 

Biasanya keinginan untuk menikah dengan orang yang baik agamanya, diperkuat ketika kita juga sudah memiliki konsep hidup yang baik. Kita tentu juga mendambakan seseorang yang paling tidak sama dengan cara kita menjalani kehidupan. Jika kamu senang ikut kajian, menambah ilmu agama, sangat mungkin kamu mendambakan lelaki atau wanita yang juga memiliki kebiasaan yang sama bukan? Sebenarnya, jauh sebelum niat menikah itu muncul, kamu sudah menyeleksi pasangan hidupmu meski masih dalam hati.

Tak ada agama, jangan hidup berumah tangga!

Karena pernikahan adalah ibadah, maka memilih pasangan hidup semestinya didasari atas alasan ibadah. Sedari awal, milikilah kriteria ini. Carilah pasangan yang baik dengan cara yang baik. Tapi, sebelumnya, kita mesti memperbaiki diri kita. Menumbuhkan sikap hidup yang baik. Memiliki pemahaman agama yang baik. Atau paling tidak kita memiliki kemauan untuk terus belajar terutama belajar agama. Karena “mendambakan yang baik” akan kalah dengan mereka yang “menjadi baik.” Maksudnya, kita boleh mendambakan lelaki soleh atau wanita soleha, tetapi fokus utama kita adalah menjadi dia yang soleh dan soleha tersebut. Karena sesuai janji Allah, Dia akan memasangkan seseorang yang mungkin sekufu dalam imannya. Allah tidak pernah salah memasangkan hamba-hamba-Nya.

Hidup tanpa agama itu segalanya menjadi berat. Termasuk hidup dalam berumah tangga. Tanpa agama, segala hal bisa menjadi masalah. Mudah stress, depresi dan gangguan mental lainnya. Rasul bersabda, “agama itu nasihat.” Tafsiran hadis ini mungkin sangat panjang dan detail. Tetapi, kita bisa menyimpulkan bahwa segala hal yang islam ajarkan adalah nasihat untuk kita menjalani kehidupan. Bukankah sudah sering kita dengarkan bahwa islam memiliki solusi atas segala permasalahan kehidupan. Oleh karena itu, jangan pernah remehkan mempelajari agama. Sebaik-baik persiapan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga adalah ilmu. Ilmu inilah yang menjadi modal bagaimana kita menjalani kehidupan kita ke depannya bersama pasangan. Selanjutnya, kita harus selalu belajar karena menikah adalah ibadah terlama.

Pelajaran bagi yang telah menikah (termasuk saya dan suami hehe) adalah bagaimana agar rumah tangga tetap dicahayai kebaikan-kebaikan. Sebelum menikah, kita dan pasangan bertanggung jawab terhadap diri kita masing-masing. Setelah menikah, tanggung jawab kita bertambah. Kita menjadi andil terhadap perubahan pasangan. Itulah mengapa seringkali digaungkan oleh para motivator pernikahan bahwa pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang menjadikan sepasang suami istri itu semakin bertakwa, semakin taat, semakin bahagia. Selain Ibadah, pernikahan pun ujian. Sehingga untuk melewati ujian ini kita dan pasangan butuh ilmu yang cukup. Tujuan utamanya adalah agar rumah tangga senantiasa diberkahi dalam kondisi suka maupun dukanya.  

Karena pernikahan adalah ibadah terlama, jangan menikah karena cinta, karena itu tak akan abadi, tetapi menikahlah karena Allah. Menikahlah dengan seseorang yang memiliki konsep diri yang baik, mencintai Allah, Rasul, dan Ilmu agama.

Pernikahan yang tidak bahagia akan selalu tegang dan jauh dari Allah. Oleh karena itu, sebelum menikah, bahagiakan dirimu. Karena orang yang tak bahagia, tidak akan bisa membahagiakan orang lain. Bahagia akan hadir jika kita senatiasa dekat dengan Allah. Dalam pernikahan, kita butuh untuk saling menguatkan, saling membahagiakan, saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. 

#selfreminder

Ramadan Day 26, 1439 H

Pelajaran dari Long Distance Marriage




Boleh jadi memang jarak itu bukan lagi masalah jauh dekatnya, tetapi perasaan yang ada di dalamnya.

Semenjak Long Distance Marriage (LDM), saya jadi semakin memahami bahwa hubungan dua orang manusia bukan bergantung kepada jasad dan fisik manusianya. Tetapi, apakah ruh-ruh kita terhubung kepada Sang Pemilik Semesta. Apakah kita masih saling mendoakan? Apakah kita masih saling merindukan?

Ketergantungan kita sebenarnya bukan pada pasangan hidup tetapi kepada Allah Swt. Kita semakin ikhlas menjalani proses kalau dilakukan karena Allah. Mungkin tidak akan ada perasaan kecewa, sedih, kesal jika semua yang kita lakukan karena Allah. Apapun yang kita lakukan kepada pasangan hidup menjadi lebih tenang kalau ada ruh dan iman di dalamnya.

Kadang saya berpikir, apakah suami saya bahagia di sana? Apakah dia sehat-sehat saja? Apakah dia tidak menjalani hari-hari yang buruk. Apakah dia bisa semakin produktif menjalani kesehariannya. Apakah pekerjaannya terurus dengan baik? Apakah ibadahnya semakin meningkat? Kalau tidak, saya tentu merasa bersalah sebagai istri.

Bagi yang LDM, bisa mendengar kabar dari pasangan hidup kalau dia baik-baik saja adalah hal yang membahagiakan bukan? Mungkin itulah mengapa komunikasi sangat penting dalam menjalani hubungan seperti ini. Ada dampak psikologis kalau kita bisa mendengar kabar masing-masing.

Saya jadi teringat doa yang seringkali orang ucapkan dalam majelis pernikahan, "Semoga Allah memberkahi kalian (di kala senang), dan memberkahi pula (di kala sedih) serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan." Doa ini sangat substantif, indah, dan holistik. Karena pada akhirnya yang kita cari dalam pernikahan adalah keberkahan dan kebaikan baik itu di kala senang maupun sedih. 

Ada yang bilang indikator keberhasilan rumah tangga itu, bertambahnya kebaikan-kebaikan, bukan kebahagiaan saja. Tidak selalu dalam rumah tangga itu dipenuhi suka, karena pasti ada juga duka yang menjadi bumbu-bumbu rumah tangga. Kemudian, seorang istri dan suami berusaha mengambil peluang bagaimana agar dalam setiap keadaan adalah bertambahnya ketaatan, kebaikan, dan cinta kasih.

Bagi yang tengah menempuh LDM, semoga Allah memberkahi dan meridhoi keluarga kita. Untuk suami saya, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran menulis thesis. Tercapai target-targetnya. Semoga ibadahnya tidak terbengkalai gara-gara thesis hehe. 


Ramadan Day 22, 1439 H




Allah Tidak Pernah Salah Menetapkan Waktu



Ada persoalan yang tidak bisa kita campuri. Seperti persoalan kapan Allah menetapkan sesuatu dalam hidup kita. Ada orang yang masih harus melewati kesendiriannya. Ada orang telah menjalani ibadah pernikahan. Ada yang harus menunggu bertahun-tahun agar bisa memiliki keturunan. Ada pula yang telah berstatus Ibu dan Ayah. Semua proses kehidupan yang kita lalui sebenarnya bermuara kepada satu. Cinta kepada Allah. Tunduk kepada syariat Allah.

Seperti siang dan malam yang silih berganti. Semua perasaan kita akan silih berganti. Tidak mungkin selamanya senang. Sama halnya tidak akan ada yang sedih terus-menerus. Allah benar ingin menguji kualitas iman. Apakah kamu lebih mencintai Allah atau mendahulukan hawa nafsumu? Silih bergantinya mendung dan cerah, kita harus menempuhnya dengan kesabaran dan kesyukuran. Bahwa tidak ada yang luput dari rencana besar Allah. Tidak ada yang luput dari pengaturan Allah. Sebaik-baik kita mempertimbangkan apa yang Allah cintai.

Matahari boleh saja tidak terbit suatu waktu. Hujan boleh datang mengguyur. Cuaca boleh berubah dari panas menjadi dingin. Musim boleh berganti empat kali dalam setahun. Tapi, hanya Allah yang tidak pernah berubah. Kasih sayang-Nya selalu lebih luas dari sangkaan manusia. Bagaimana mungkin kita tidak mendahulukan Allah. Sementara segala kebaikan dan keberkahan dalam hidup kita adalah bukti cinta dari-Nya. Tujuan kita hanya satu. Menyenangkan Allah. Mencari ridho Allah. Maka Allah akan membahagiakan kita, di dunia dan akhirat. 

Ramadan Day 16

Muslimah Itu Harus Kalem, Gak Boleh Cerewet???



Pernah gak sih beranggapan kalau islam itu kaku termasuk bagaimana kita harus bersikap. Apalagi jika kita muslimah dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Apakah islam menghendaki para perempuan untuk kalem, gak banyak bicara, cuek dan tegas? Bahkan ada yang pernah beranggapan bahwa dia belum bisa menjadi muslimah seutuhnya karena sangat cerewet, banyak bicara, tomboy dll. Katanya, ia belum bisa seperti muslimah-muslimah lain yang lembut, feminim dan santun. Dia menjadi ragu akan dirinya apakah bisa hijrah. Padahal kita tidak harus mengubah diri kita seutuhnya. Nah, apakah para muslimah harus memiliki karakter dan kepribadian yang sama? 

Kali ini saya tertarik untuk membahas mengenai kepribadian. Kepribadian mungkin menjadi daya tarik mengapa orang lain ingin mengenal kita atau bagaimana orang lain memperlakukan kita. Biasanya kesan pertama yang tercipta ketika bertemu seseorang adalah tampilan luarnya. Tetapi yang menentukan kelak adalah kepribadiannya. Dalam buku Personality Plus karangan Florence Littauer dikenal empat macam kepribadian, yakni kepribadian melankolis, plegmatis, koleris, dan sanguinis. Tapi kali ini saya tidak akan membahas itu. Tapi, saya akan fokus tentang kepribadian yang senantiasa diridhoi Allah, yaitu kepribadian islam.

Saya ingin bertanya kepada kalian yang sudah mengaji islam, entah namanya tarbiyah, halqoh, liqo, ngaji dll. Apa yang Anda rasakan setelah melalui serangkaian proses itu? Adakah yang berubah dari diri Anda? Sebenarnya tidak terlalu banyak yang berubah kan? Yang cerewet, mungkin masih tetap cerewet, yang pendiam mungkin masih tetap pendiam. Tapi yang membedakan adalah kita mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak disenangi islam. Contoh yang paling dekat adalah kita tidak lagi mengenal istilah pacaran. Kita justru malah menundukkan pandangan, menjaga hati, menghindari interaksi yang tidak dibolehkan dsb.

Mari kita mengubah paradigma tentang kepribadian. Kita tidak akan membahas mengenai kepribadian yang ditawarkan dalam buku Personality Plus atau dari teori-teori kepribadian milik Sigmeund Freud. Kita akan memakai standar islam. Jadi pada dasarnya, dalam islam hanya ada dua kepribadian, yakni kepribadian islami dan bukan islam.

Sesungguhnya Allah tidak menilai atas rupamu serta harta kekayaanmu, akan tetapi dia hanya menilai hati dan amal perbuatanmu (HR. Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Dari hadis di atas betapa pentingnya kita memiliki kepribadian yang baik. Karena Allah tidak menilai wajah dan harta kita, tetapi perbuatan kita. Lalu apa kaitannya dengan kepribadian? Menurut saya kepribadianlah yang membuat orang memiliki prinsip hidup yang jelas. Kali ini saya akan mengerucutkan pembahasan kita khusus untuk para muslimah. Setiap muslimah idealnya memiliki kepribadian islami. Kepribadian yang berdasarkan nilai-nilai islam. Kepribadian yang tidak melenceng dari aturan Al Qur’an dan As- Sunnah.

Kecantikan dan ketampanan akan pudar ditelan waktu. Tapi, kepribadian tidak akan memudar selama kita senantiasa meng-upgrade-nya sesuai perintah Allah. Sebagai seorang muslimah yang beriman kepada Allah dan Rasulullah, hendaknya kita terus memperbaharui kondisi hati dan pikiran kita hanya mengharap ridho Allah.

Ada begitu banyak karakter yang tercipta di dunia ini. Saya memang belum membaca teorinya, tapi sepemahaman saya, ada karakter bawaan dan ada juga yang terbentuk karena lingkungan. Semua itu berjalan alamiah. Tapi kemudian yang akan membuat kita mulia di mata Allah adalah sejauh mana kita mampu menyenangkan Allah dengan perilaku kita. Lalu apa yang akan membuat kita dicintai oleh Allah dan layak mendapat surga Allah kelak? Yaitu ketakwaan kita kepadaNya. Satu-satunya cara meraih ketakwaan adalah dengan berilmu. Mengetahui apa saja yang dilarang dan diperintahkan oleh Allah swt.

Ilmu akan membentuk kepribadian seseorang. Untuk memiliki kepribadian islami, hendaknya kita mempelajari bagaimana islam menginginkan wanita berperilaku. Kita tidak menuntut semua muslimah berkepribadian sama. Tentu saja itu mustahil. Para sahabiyah juga memiliki karakter yang berbeda-beda. Tetapi mereka tercelup dalam islam. Mereka tetap memiliki kepribadian islam. Seorang muslimah tidak dilarang untuk sanguinis, melankolis, koleris, ataupun plegmatis. Tapi, seorang muslimah harus tahu batas-batas syariat. Yang mana yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram ia lakukan. Ia harus tahu kondisi kapan harus bersikap cerewet, kalem, tegas dll.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Akal perempuan ada pada keindahannya dan keindahan laki-laki ada pada akalnya.” Sebenarnya saya tidak mutlak mengerti apa maksudnya. Kata-kata Ali bin Abi Thalib sangat “nyastra” saya sulit menjangkau kedalaman pikirannya. Apalagi menafsir kalimat tersebut. Jika boleh berpendapat, saya akan menafsirkan bebas seperti ini seorang perempuan menunjukkan kecerdasan akalnya melalui keindahannya seperti kehalusan perasaannya, tutur katanya, dan kelembutan perilakunya.

Perempuan memang selalu identik dengan menggunakan perasaannya. Tapi dalam hal tertentu, perempuan juga harus memposisikan dirinya sebagai hamba yang dianugerahi akal untuk berpikir. Seorang muslimah seharusnya juga menyumbangkan pemikirannya untuk umat ini. Allah menciptakan akal pada perempuan tidak ada bedanya dengan laki-laki. Kita dituntut untuk menggunakan akal kita untuk berpikir. Mencari solusi islami atas setiap permasalahan yang ada. Akal ibarat chip yang dititipkan Allah untuk menuntun gerak langkah kita. Alangkah sayangnya, jika para muslimah hanya menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang menghambat perbaikan dirinya. Muslimah dibutuhkan kehadirannya untuk melakukan ishlah (perbaikan) di kalangan masyarakat. Saya seorang muslimah dan saya juga masih belajar, belajar, dan terus belajar. Allahu ‘alam.

Photo credit: Maslihatul Bisriyah

Menikah Muda atau Menikahlah Ketika Siap



Semua pasti sudah paham bahwa pernikahan adalah ibadah. Siapa yang tidak ingin menikah akan dipertanyakan penghambaannya. Saya pikir semua orang yang normal memiliki niat untuk menikah meski belum tahu kapan waktunya. Kalau akhir-akhir ini kamu sering mendengar frase “nikah muda” mungkin karena istilah ini lagi tren. Apalagi di kalangan perempuan dan lelaki yang lagi semangat-semangatnya belajar agama atau mungkin yang baru saja hijrah. Alhamdulillah ini sebenarnya adalah kecenderungan yang positif. Banyak yang sudah tercerahkan untuk tidak pacaran.

Hanya saja niat menikah muda tetap perlu diperhatikan kembali. Saya juga bukan menentang nikah muda. Tapi, esensi nikah muda seolah-olah telah menjadi tren yang memprovokasi bukan mengedukasi. Sekarang cukup menjamur muslim dan muslimah yang ngebet nikah muda. Saya tidak tahu apakah ini karena akun-akun di sosial media yang cukup masif mengampanyekan ini. Apalagi beberapa selebgram yang terus-menerus mempromosikan kemesraan. Sehingga banyak orang yang mudah baper berjamaah hehe. Ada yang baru aja hijrah, baru aja mulai belajar islam sudah kepengen nikah muda. Ada yang masih SMA sudah mulai kepikiran tentang nikah. Padahal pernikahan tidak sesederhana itu.

Sejauh ini saya setuju dengan kampanye kesadaran tentang haramnya pacaran dan nampaknya berhasil. Banyak orang yang sudah sadar tentang negatifnya pacaran, selain karena itu dosa. Tapi tidak pacaran bukan berarti solusinya selalu nikah muda. Menikah bukan tentang tersalurnya perasaan saja, bukan tentang perasaan dan cintanya yang sudah halal, bukan tentang bahagia dan indah-indahnya saja. Menikah itu butuh ilmu. Butuh persiapan. Butuh kematangan mental, finansial dsb. sebab ujiannya besar. Kematangan finansial maksud saya di sini bukan harus semapan-mapannya, tapi keyakinan diri sudah mampu menafkahi. 

Tren nikah muda hendaknya jangan diprovokasi. Ajaklah para remaja, muda mudi untuk berpikir lebih holistik tentang menikah. Fokus terhadap edukasinya. Bagaimana mempersiapkan diri sebelum menikah. Agar remaja lebih fokus mengisi penantiannya dengan bercita-cita tinggi, melejitkan potensi diri. Menambah ilmu terutama ilmu agama. Memikirkan tentang masalah umat, melakukan aktivitas bermanfaat, dan fokus cari duit (terkhusus laki-lakiπŸ˜…). Bukan buru-buru pengen nikah karena tak sabar untuk segera pacaran setelah nikah. Melegalkan perasaan dsb. Semoga niat seperti ini bisa diluruskan. Jika sekiranya ingin menikah muda tolong luruskan niatnya karena Allah, jangan ikut-ikutan tren. Jangan hanya karena provokasi.

Menikah itu anjurannya memang disegerakan tapi bukan berarti tergesa-gesa. Bukan cepat-cepat menikah tapi menikahlah ketika siap. Jika kamu menggunakan istilah bersegera, kamu akan berupaya untuk menambah ilmu dan kesiapan karena kamu ingin memantaskan diri dulu sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Kamu tidak fokus pada dorongan biar segera halal. Karena motifnya bisa berbeda. Kamu berniat menikah karena perintah Allah dan Rasul-Nya, karena ibadah. Jika seperti itu, kamu menggunakan potensimu untuk meningkatkan kapasitas keilmuan, agama, psikologi, dan finansial. 

Nah, kesiapan seseorang ini tentu berbeda-beda. Ada yang menikah muda karena mereka memang telah memiliki bekal yang cukup. Usianya boleh sangat muda tetapi mereka telah siap, matang, dan dewasa baik secara keilmuan dan finansial. Saya sendiri dan suami bukan termasuk orang yang menikah muda. Bahkan usia kami sepertinya sudah melewati batas ideal usia rata-rata orang ingin menikah. Mungkin kami termasuk orang yang menikah ketika telah siap atau sudah sangat layak haha. Atau jodohnya baru dibukakan pada usia itu 😊. Saya lebih setuju jika kita menggunakan frase “menikahlah ketika siap.” Jika kamu telah benar-benar siap, usia muda bukan lagi penghalang. 

Jika kita menikah ketika telah siap, kita tidak lagi terkejar-kejar dengan zona waktu orang lain. Kita punya harapan-harapan tersendiri kapan memutuskan ingin menikah. Ketika kita menikah karena sudah siap, kita tentu punya banyak bekal memasuki kehidupan rumah tangga. Meski sebenarnya kesiapan itu tergantung cara kita menjalani kehidupan. 

Mungkin kecenderungan orang Indonesia ingin menikah pada usia 23-27 bagi perempuan, dan 25-30 bagi lelaki. Bahkan banyak yang lebih muda. Apakah usia itu adalah usia yang tepat? Saya tidak bisa memberi pembenaran. Karena setiap orang punya pengalaman hidup masing-masing dan kita tidak bisa menilai mengapa seseorang cepat atau lambat menikah. Setiap orang punya harapan dan kisah hidupnya. Semoga setiap pilihan hidup kita dilandaskan karena perintah agama. Semoga kamu memutuskan berumah tangga karena memang telah siap untuk menikah. Mari kita pelajari lagi makna kesiapan. Karena rumah tangga adalah perjalanan panjang yang membutuhkan banyak ilmu. Sampai sekarang pun saya masih merasa kekurangan ilmu berumah tangga.

Jadi kapan waktu yang tepat untuk menikah? Yup, jika kamu sudah siap. Segeralah berusaha. Temukan jalan dimana jodoh itu bisa datang 😊

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Ramadan Day 11, 1439 H.

Photo credit: Maslihatul Bisriyah

Apakah Kamu akan Memilih Wanita Berpendidikan Tinggi atau Wanita Taat?



Katanya ada banyak lelaki yang merasa terganggu dengan kecerdasan perempuan dan umumnya mereka menginginkan perempuan yang penurut. Seolah-olah penurut itu selalu disandingkan dengan perempuan yang tidak terlalu tinggi pendidikannya. Atau biasa-biasa saja dalam kiprahnya. Mungkin dalam pandangan umum lelaki, perempuan berpendidikan tinggi akan sulit diatur. Di luar sana, akan ada perempuan yang merasa tersinggung karena ingin berpendidikan setinggi-tingginya tetapi juga ingin menjadi wanita setaat-taatnya.

Banyak pula lelaki yang keder jika tertarik dengan wanita yang lebih tinggi status pendidikannya ataupun status sosialnya. Mereka perlahan mundur. Padahal bisa jadi si perempuan tidak berpikiran yang sama. Mereka bisa jadi ingin mengenal kepribadian lelaki tersebut. Maka, untuk para perempuan yang berpendidikan tinggi dengan usia yang mungkin sudah layak menikah. Tidak usah khawatir. Akan ada lelaki yang pantas bersanding denganmu. Allah sebaik-baik yang memasangkan HambaNya.

Yang perlu kita renungkan adalah berpendidikan tinggi itu bukanlah sesuatu yang mesti terlalu dibanggakan. Atau jika status sosialmu lebih tinggi. Sehingga membuatmu memandang rendah siapa pun yang ingin berkenalan denganmu. Kesempatan menuntut ilmu lebih banyak, lebih tinggi tentu sangat layak disyukuri. Setinggi-tingginya pendidikan seorang perempuan akan kalah dengan setaat-taatnya perempuan. Taat di sini maksudnya, taat pada Tuhan, aturan agama, termasuk taat pada suaminya selama perintah suaminya tidak melanggar syariat. Jadi fokus dan tujuan kita sebagai perempuan mestinya menjadi wanita shalihah. Pendidikan kita adalah jalan untuk menjadikan kita semakin taat bukan semakin membangkan.

Jika pendidikan tinggi dan ketaatan itu dimiliki sekaligus akan lebih baik. Bukankah menuju taat itu ilmu sangat penting. Bukankah pula ilmu itu tidak dinilai dari pemahaman semata tetapi pengamalan dan kebermanfaatan. Selanjutnya, hulu dari segala ilmu adalah amal jariyah. Kalau berpendidikan tinggi menjadikan seorang wanita lebih bermanfaat, terhormat, menyadari perannya dan menghargai serta menghormati lelaki sepertinya lelaki tidak perlu takut dengan pendidikan tinggi wanita.

Menurut riset (Feldhahn,
2016) naluri laki-laki itu salah duanya adalah "men need respect" and "men are providers" maksudnya apa? Laki-laki itu lebih baik merasa tidak dicintai daripada tidak dihargai. Kedua, meskipun seorang istri bisa independen secara finansial, bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga, beban mental lelaki sebagai "provider" dalam keluarga itu tetap ada. Jadi, perempuan kalau mengabaikan naluri ini, wajar laki-laki merasa tersinggung hehe. Pengambilan sample riset ini dilakukan di Amerika. Bukan di kalangan muslim saja. Jadi, fitrah lelaki ini tidak mengenal agama, budaya, kebangsaan, ataupun ideologi.

Bahkan mungkin ada juga wanita-wanita yang pendidikannya tidak begitu tinggi, tetapi sangat dominan. Pendidikan tinggi atau gelar akademik tidak menentukan wanita itu dominan atau submisif. Bukan berarti istri itu harus total submisif. Istri tetap harus punya voice, apalagi kalau menyangkut urusan-urusan halal dan haram, hukum syara' dalam mengambil keputusan bersama untuk kemaslahatan keluarga. Pendidikan tinggi semestinya menjadikan wanita lebih pandai mengungkapkan pendapat, lebih nyambung berdiskusi dengan laki-laki, punya ide dan solusi ketika menghadapi masalah yang menyangkut ketahanan keluarga dari ujian-ujian internal maupun eksternal. Bukan bermaksud dominan dan superior terhadap lelaki. Bukankah dalam islam sebenarnya lelaki dan wanita tidak ada bedanya di hadapan Tuhan kecuali ketakwaan.

Kita tidak berlomba-lomba siapa yang paling tinggi pendidikannya, siapa yang paling banyak penghasilannya, siapa yang paling bagus pekerjaannya. Alangkah rendahnya kalau niat hidup kita hanya berlomba dalam perkara seperti ini. Seolah-olah wacana seperti ini malah memunculkan persaingan antara lelaki dan perempuan, bukan sinergi. Allah hanya memerintahkan kita berfastabiqul khairat.

Jadi, wanita tidak perlu berhenti menuntut ilmu hanya karena takut tidak ada lelaki yang berani melamar. Lelaki, jangan takut melamar perempuan berpendidikan tinggi karena merasa insecure atau inferior. Pendidikan tinggi semestinya menjadikan perempuan dan lelaki lebih pandai menutupi dan melengkapi kekurangan masing-masing. Satu lagi mintalah nasihat dari para guru teladan dan pelajarilah bagaimana kehidupan rasulullah, para sahabat, sahabiyah, ulama-ulama terkemuka, dan guru-guru teladan itu.

Selanjutnya, masih ada kuasa di atas kuasa. Allah yang paling tahu makna "ketepatan" dan "kepantasan."  Bukan asumsi-asumsi manusia. Buktinya banyak lelaki yang menikah dengan wanita yang jauh lebih tua, banyak juga wanita yang menikah dengan lelaki yg jauh lebih tua. Ada pula suami yang pendidikannya lebih rendah dari istri. Justru mereka bahkan membantu istri mereka menyelesaikan pendidikannya. Pun sebaliknya. Dan mereka tetap harmonis. So, judgement yang paling normatif adalah jodoh sudah diatur oleh Tuhan hehe.

"Sesungguhnya kewajiban yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu adalah mengobati niat, memperhatikan kebaikannya, dan menjaganya dari kerusakan" (Ust. Yazid Jawash).


Oh ya terakhir, pilihlah suami seperti suami saya yang selalu siap mendukung kemajuan istrinya :) :) Alhamdulillah...

Ramadan Day 8, 
1439 H.
Tulisan yang direvisi kembali. 

 
Photo Credit: Maslihatul Bisriyah

Pernikahan: Rumah Terbaik Meneduhkan Rasa


Barangkali perjalanan panjang cinta dimulai dari pernikahan. Pasangan yang menjalin cinta sebelum pernikahan sejatinya sedang membangun rumah yang sewaktu-waktu bisa roboh karena pondasi yang tidak kuat. Sewaktu-waktu penghuninya bisa kabur karena sudah tak nyaman di rumah. Hubungan yang hanya sewaktu-waktu.

Sementara pernikahan adalah awal sebuah perjalanan panjang yang tujuannya menembus dimensi. Kita menyebutnya surga. Dan jalan-jalan menuju surga tidak seindah imajinasi kita tentang surga itu. Tidak semulus jalanan yang berhamparkan permadani. Tetapi, bukankah dengan agama kita bisa melewati setiap liku jalannya?

Pernikahan adalah rumah terbaik dimana kita meneduhkan rasa yang sebelumnya gagu untuk kita perbincangkan, atau menenangkan kerinduan yang dulunya tak tahu untuk siapa. Pernikahan adalah kapal yang hanya akan selamat jika penumpanya saling bekerja sama untuk mengarahkan kapal hingga sampai ke tujuan yang benar.


Tapi, kapal itu butuh penunjuk arah agar terhindar dari ketersesatan. Agar selamat mengarungi samudera. Penunjuk arah itu adalah pemahaman agama yang baik. Kita akan terus belajar sampai kapal kita tiba dengan selamat. 


Ramadan Day 6, 1439 H 

photo credit: Maslihatul Bisriyah

Semakin Sama Visimu, Semakin Mungkin Kamu Berjodoh




Bagaimana cara mengetahui bahwa dia adalah jodoh yang baik untukmu?

Baik yang pacaran apalagi yang tidak pacaran, masalah jodoh tetaplah misteri. Yang berpacaran pun belum tentu tahu bahwa pasangannya sekarang adalah jodoh terbaik. Karena biasanya, hubungan seperti ini penuh kepalsuan. Mereka selalu menampilkan kebaikan dan menyembunyikan sisi-sisi negatifnya. Kita belum bisa mengenal seseorang sampai kita hidup bersama. 

Melalui tulisan ini, setidaknya saya akan mencoba memberi tips bagaimana mengetahui apakah dia cocok untukmu. Tetapi kamu harus ingat kata Khalil Gibran, bahwa cinta itu bukan lahir dari perkenalan yang lama tetapi kecocokan jiwa. 

"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad." - Khalil Gibran-

Nah bagaimana kamu bisa mengenal kecocokan jiwa ini? Kenali visi dan misi si dia. Semakin sama visimu, semakin mungkin kamu berjodoh. Saya akan mulai dengan kisah saya. 

Sejujurnya saya mengenal suami sudah bertahun-tahun lamanya. Tapi tidak pernah ada komunikasi dan kontak. Kalau dari versi saya, saya bertemu pertama kali di acara English Corner di TVRI Makassar. Waktu itu saya jadi bintang tamu karena baru pulang dari Amerika, sekitar pertengahan 2011. Dan jreng..jreng dia adalah presenternya 😜 Impresi saya waktu itu, "Ini orang kok cerewet banget ya😏" Haha.. Tapi wajarlah pembawa acara memang harus cerewet. Dan ternyata si suami tidak ingat momen ituπŸ˜’. Lalu, versi dia. Katanya kita bertemu pertama kali di acara reuni sesama alumni beasiswa Amerika di salah satu mal di Makassar. Dan saya tidak ingat sama sekali kejadian tersebut πŸ˜….

Saya jadi ingat kutipan tulisan saya di buku Musim Penantian, "Bisa jadi jodoh serupa itu, ada kisah kita yang beririsan di masa lalu." Dan betul itu terjadi dalam diri saya πŸ˜‡. Saya dan suami memang punya irisan di masa lalu. 
 

Waktu berlalu. Sampai pada akhirnya kita bertemu kembali di grup WA LPDP LN Makassar tahun 2015. Waktu itu si suami memperkenalkan diri karena baru jadi awardee. Sementara saya tinggal menghitung hari berangkat ke Melbourne. Duh kayak kenal orang ini. Dan akhirnya aku sapa. Waktu itu entah kenapa seperti sudah kenal lama padahal baru ketemu face to face sekali doang. Singkat cerita, sampailah takdir mempertemukan kami di kota Melbourne 2016-2017.

Nah, kita lanjut pembahasan tadi. Kami memang taarruf seperti orang pada umumnya, tukar biodata dengan perantara ustadz, tapi saya sudah kepo tentang visi orang ini. Saya menemukan kesamaan banyak hal dari cara kita memandang sesuatu. Saya tidak perlu berkompromi tentang pemikiran-pemikirannya. Bagaimana dia memandang sesuatu, begitu pula saya memandangnya. Itu dari perspektif saya sih, entah apakah dia merasa sevisi dengan saya πŸ˜‚. Mungkin sederhananya, tidak banyak hal yang dipertentangkan. Saya pun berpikir, mungkin Tuhan menjodohkan saya dengan suami karena alasan-alasan di atas. Semakin sama visimu, semakin mungkin kamu berjodoh.


Jadi, saran saya, kamu perlu kepo sedikit tentang visi dan misinya. Bisa melalui pertanyaan langsung, perantara, atau gunakan skil kepo di medsos πŸ˜†. Tetapi, ini tidak boleh dijadikan pegangan. Karena mungkin saja ada orang sudah merasa visi dan misinya sama tetapi belum berjodoh. Meski saya selalu melihat di sekitar saya, teman-teman, senior-senior dan junior-junior yang pada akhirnya berjodoh karena memang memiliki visi dan misi yang sama. Tidak banyak hal yang dipertentangkan. Benar kan?

Tulisan ini bukan bermaksud mengabaikan akhlak dan agama ya. Karena karakter tidak seperti visi yang bisa disamakan. Karakter perempuan dan lelaki pasti berbeda. Tapi, saya berusaha mencari ruang kesesuaian yang bisa kita bayangkan akan seperti apa menjalani kehidupan ke depan. Mempelajari visi dan misi calon pasanganmu sangat mungkin mendatangkan kecocokan yang kamu harapkan. 
 
Selanjutnya, jangan pernah lupa, istikharah adalah cara meminta yang paling indah. Jika memang semakin didekatkan Insyaallah dialah jodoh terbaik. Tetapi, jika semakin dijauhkan, mungkin belum berjodoh. So, kenali baik-baik visi si dia ya πŸ˜‰

Ramadan Day 4, 1439 H
Ditulis dalam perjalanan Polewali-Majene πŸ˜… 
Hari minggu tetap mengajar demi kebahagiaan mahasiswa yang mau cepat-cepat pulkam.


photo credit: Maslihatul Bisriyah 
Diberdayakan oleh Blogger.