Universitas Kehidupan



Dalam salah satu teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner, dikenal kecerdasan intrapersonal. Yakni kemampuan memahami diri sendiri, menghargai, memahami perasaan, keterbatasan, kekuatan, dan motivasi diri sendiri. Dalam pengamatan saya, biasanya orang-orang yang memiliki kecerdasan seperti ini adalah orang-orang yang pandai mengambil hikmah dalam kehidupannya. Mereka yang selalu tahu menyembuhkan dirinya sendiri. Mungkin mereka bisa cepat berdamai dengan konflik batinnya.

Ada sebuah kata bijak Arab yang menyebutkan, barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Meskipun saya kurang begitu paham apa maksud kalimat ini, tetapi saya secara pribadi mengaitkannya dengan kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan diri sendiri agar mengikuti suara-suara kebenaran dari dalam diri.

Katanya, naluri itu tidak pernah bohong. Bahkan seorang pencuri pun tahu kalau ia salah. Seorang pelacur pun tahu kalau kelakukannya tidak benar. Tetapi, mereka mengabaikan naluri-naluri yang ditiupkan Tuhan dari dalam diri mereka. Orang-orang yang tidak mengenal dirinya yang terdalam mungkin lebih mengikuti hawa nafsunya. Disadari atau tidak, Tuhan telah memasang alarm dalam tubuh kita, yang akan berbunyi ketika kita melakukan kesalahan. Kalau masih tersentuh oleh kesalahan itu, mungkin saja itu rahmat Tuhan yang membuka jalan agar kita mengubah jalan pikiran kita.

Dalam hidup ini, di setiap interaksi sosial kita dengan sesama manusia atau alam, selalu ada kesempatan untuk mengambil pelajaran untuk peningkatan kualitas diri sendiri ke depannya. Inilah universitas kehidupan yang tidak mungkin didapatkan dalam ruang-ruang kelas. Tetapi, dalam kehidupan sosial yang kita hadapi. Masalah dan pengalaman hidup akan menuntun kita untuk belajar. Menelaahnya ke dalam diri sendiri dan mengambil pelajaran di dalamnya adalah hikmah. Karena selalu ada hikmah di setiap kejadian. Dan kita akan terus belajar dalam kehidupan ini. 



Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar: 9)


Melbourne, 31.12.16

Jadilah yang Baik


“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri..” (Q.S. Al Isra: 7)

Mungkin tidak ada yang tahu amalan-amalan apa dari kita yang bisa mendatangkan berkah dalam kehidupan kita. Yang kita tahu bahwa setiap perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan dalam hidup. Setiap niat yang baik, Allah akan bukakan dan tunjukkan jalannya. Lingkungan dan orang-orang baik di sekeliling kita adalah pertanda bahwa Allah ingin memberikan kebaikan dalam hidup kita.

Bahkan orang-orang yang terjaga dan menjaga diri adalah bukti kasih sayang dan balasan Allah atas perbuatan baik yang mungkin sering ia lakukan. Dalam sebuah hadis dikatakan, siapa yang ingin kebaikan maka Allah akan tunjukkan jalan menuju kebaikan tersebut. Begitu luasnya rahmat Allah kepada mereka yang senantiasa ada niat baik dalam hatinya.

Disadari atau tidak, kita memperbaiki diri adalah jalan membuka kesempatan agar yang baik-baik datang dalam kehidupan kita. Misalkan rezeki-rezeki yang kita tidak tahu dari mana datangnya. Atau terhindarnya kita dari musibah-musibah. Mungkin semua itu adalah berkah dari akumulasi dari perbuatan baik yang pernah kita lakukan. 

Memperbaiki diri salah satunya juga adalah jalan untuk menyeleksi pasangan hidup. Allah-lah yang menyeleksinya lebih dahulu. Allah ingin mendatangkan yang baik-baik bagi hamba-Nya yang senantiasa memperbaiki diri atau menjaga diri dari yang buruk. Maka hendaknya setiap hamba senantiasa berusaha untuk terus meng-upgrade diri baik dalam hal ibadah, akhlak, dan ilmu pengetahuan hanya untuk Allah semata. 

Kalau kita berbicara jodoh. Setiap orang tentu menginginkan jodoh yang baik. Ini sudah seringkali kita dengar bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, juga sebaliknya (An Nur: 26). Tetapi, jodoh itu bukan hanya tentang cerminan diri. Ada peluang untuk saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing, saling memperbaiki, saling menguatkan. Dan mungkin juga bisa saling melangit bersama. Memiliki visi yang tidak berhenti di dunia tetapi sampai ke surga, yakni tujuan dan cita-cita tertinggi umat manusia.

Jadi, jika kita baik, taat, bagus akhlak dan perilakunya, berusaha terus memperbaiki diri dan menjauhkan diri dari keburukan, insyaAllah, Allah akan mempertemukan orang yang serupa. Semoga siapapun yang membaca ini segera dipertemukan dengan jodoh yang baik.

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa" (Al Maidah: 2)

Melbourne, 12 Desember 2016

:: the photo was taken in Schonborn Park, Vienna

Pilihan Hidup

Hasil gambar untuk the intern


Beberapa waktu lalu saya menonton film "The Intern" yang dibintangi oleh Anne Hathaway dalam perjalanan Melbourne-London. Meski fokus ceritanya seputar kehidupan kakek duda bernama Ben (Robert De Niro) yang pensiun dan melakukan internship di perusahaan Jules (Anne Hathaway), tetapi kehidupan rumah tangga Jules cukup menarik perhatian saya. Jules adalah seorang CEO yang sukses di perusahaan ternama dan juga pendiri perusahaan tersebut. Jules adalah seorang feminis. Dia memiliki seorang suami dan seorang anak. Suami Jules tidak bekerja. Dia menjadi Bapak rumah tangga dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, seperti memasak dan mengurus anak. Jules pergi pagi dan pulang ketika suaminya sudah tidur. Ketika bangun, dia sudah melihat suaminya berada di dapur, memasak untuk bekal anaknya dan siap untuk mengantar anaknya ke sekolah. Sebuah tukar peran antara posisi laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga.
Awalnya, saya berpikir film ini mencoba mengembuskan ide tentang konstruksi masyarakat di kehidupan barat saat ini dimana tukar peran seperti ini sudah biasa. Dan bahwa laki-laki tidak harus menjadi pencari nafkah. Tetapi, ternyata suami Jules di film ini selingkuh. Kehidupan rumah tangga Jules tidak seharmonis yang ia pikirkan. Jules tentu sedih dan kecewa. Ia tidak menyangka bahwa suaminya bisa selingkuh. Meskipun ini hanyalah sebuah cerita dalam film. Tapi, menurut saya ini adalah gambaran nyata kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam film ini, ternyata masyarakat barat pun sebenarnya gelisah akan pemikirannya. Mereka tidak bisa menutupi bahwa tukar peran bukan solusi yang terbaik. Meski di akhir cerita mereka kembali berdamai, tetapi tidak digambarkan apakah Jules dan suaminya mengubah cara pandang dalam mengatur rumah tangga mereka.
***
Mungkin kita sudah sering mendengar bahwa karir terbaik seorang wanita adalah menjadi Ibu dan tentu saja istri yang baik. Tetapi, yang menjadi tantangan ketika sang wanita mungkin menjalani aktivitas seperti menuntut ilmu, apalagi di negeri orang dan jauh dari kerabat terdekat atau harus bekerja. Pilihan hidup ini menjadi sebuah perjuangan yang harus ditempuh oleh seorang student mom. Saya tidak sepenuhnya setuju bahwa seorang wanita harus bekerja. Tidak juga sepenuhnya setuju bahwa pendidikan seorang wanita harus berhenti ketika ia menjadi seorang ibu rumah tangga. Banyak wanita-wanita yang luar biasa di luar sana yang tetap bisa menyeimbangkan keduanya. Bahkan mungkin ada di antara mereka bahkan bisa tetap berprestasi dimana tanggung jawabnya sebagai ibu tetap dijalankan.
Kembali kepada konteks bahwa karir terbaik seorang wanita adalah menjadi ibu dan istri yang baik, mungkin tidak semuanya setuju dengan ide ini. Kalau dalam ajaran yang saya pahami, hak dan kewajiban kita sebagai wanita sudah ada porsinya. Saya tidak akan menambah atau mengurangi. Berkarir atau bekerja dalam hal mencari nafkah bukanlah kewajiban wanita. Tetapi, bukan berarti itu dilarang. Jadi bagi mereka yang tetap memilih untuk berkarir mungkin bisa mengubah mindset bahwa pekerjaan utamanya adalah menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, lalu pekerjaan sampingannya adalah pekerjaan yang tengah ia jalani di luar rumah tangganya hehe...
Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa tugas utama kita adalah menjadi hamba yang taat setaat-taatnya. Apakah dia memiliki karir di luar sebagai ibu rumah tangga, dia harus tetap menyadari hak dan kewajibannya sebagai hamba. Selama itu tidak dilalaikan dan keseimbangan tetap terjalin, maka tidak ada salahnya. Saya sebenarnya menulis ini karena tengah bertanya-tanya apakah teori-teori yang saya pahami selama ini betul-betul mudah saya aplikasikan ketika sudah berhadapan dengan realita. Setidaknya teori-teori ini sudah membentuk kerangka berpikir saya.
Kalau kita mengukur ketersediaan waktu, mereka yang berpendidikan dan tetap memilih untuk menjadi ibu rumah tangga secara penuh, idealnya akan lebih maksimal menjalankan hak dan kewajibannya. Ketimbang yang membagi waktunya dengan bekerja di luar rumah. Tetapi, saya tidak memberikan "judgement" bahwa mereka yang bekerja tidak bisa melakukan kewajibannya dengan sempurna sebagai ibu rumah tangga. Kembali lagi, semuanya tentang manajemen waktu. Jangan sampai mereka yang bekerja justru lebih baik dalam mengurus rumah tangganya. Saya tentu kagum dengan wanita-wanita yang memilih untuk menjadi stay-at-home Mom bukan karena takdir karena tidak bisa bersaing, tetapi karena itu adalah pilihan hidup terbaik menurutnya di tengah potensinya yang bisa ia kembangangkan di luar. Bagi yang tengah menjalani peran ini, buktikan bahwa menjadi seorang stay-at-home Mom adalah karir yang terbaik dan mulia agar profesi ini tidak dipandang sebelah mata. Kembali lagi, rumah tangga yang sukses bukan diukur dari apakah istrinya bekerja atau tidak. Suaminya semakin sukses dalam karir atau tidak. Tetapi rumah tangga yang membuat anggota keluarganya semakin taat dan dekat kepada Allah.

Melbourne, 25 November 2016

Movember

Teman adalah kekuatan (Patrick)




Berulang tahun itu mungkin tidak spesial sampai kita atau orang lain menganggapnya spesial. Bagi saya dan mungkin juga beberapa orang, ulang tahun mungkin secara matematis adalah bertambahnya umur kita. Tetapi, ulang tahun sesungguhnya adalah berkurangnya jatah umur kita di dunia. Berkurangnya jatah umur adalah refleksi sudah sejauh apa kita manfaatkan umur kita. Dan akan seperti apa kita gunakan sisa umur yang ada. Katanya dewasa itu tidak selalu berbanding lurus dengan bertambahnya usia. Tetapi kedewasaan adalah sikap. I am officially 27 years old. Tak bisa berkata-kata lagi, saya semakin tua. Akhir November selalu menjadi momen bagi saya untuk belajar move on dari keburukan-keburukan menuju kebaikan-kebaikan. Bolehlah saya menamainya MOVEMBER.

Kata Patrick, temannya Sponge Bob, teman adalah kekuatan. Hidup di luar negeri adalah salah satu pengalaman yang mengenalkan kita dengan lingkungan baru, kehidupan baru, dan teman baru. Teman adalah kado terindah dalam hidup. Teman adalah tempat kita berbagi suka dan duka, setelah keluarga. Teman telah menjadi keluarga dimana kita memiliki ikatan emosional dengannya. Kemarin, tepat di hari ulang tahun saya, beberapa teman telah mengorbankan waktunya untuk memberikan hadiah terbaik. Saya selalu terharu kepada siapa saja yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan hartanya untuk kebahagiaan temannya. Saya terharu melihat video ucapan mereka yang sungguh indah. Terimakasih ya yang sudah mau berkontribusi. 
  
Ini ucapan-ucapan dari teman-teman. Terimakasih banyak atas doanya Mba Riya dan Yuni. Icha, dan Asra yang ada di Makassar. Terimakasih juga untuk doa-doa dari grup Hip-Hip Hura yang sudah jarang lagi ngumpul karena mereka pada sibuk thesis huhu… Terimakasih untuk doa-doa dari teman-teman di facebook.




Surprise Part 2

Saya menyebut ini failed surprise. Niatnya mereka mau memberi surprise, malah mereka yang surprise melihat saya tak ada di kamar malah muncul dari kamar kecil, hehe… Sorry ya girls. Saya kedatangan tamu- tamu cantik ini. Mereka super-duper baik hati loh. Duh, sayang banget deh yang gak mendapatkan mereka hehe.




The Birthday Cake





Dengan Kak Arma, my lovely Ibu Kos, terpaksa diculik buat foto-foto. Maafkan penampilan kami yang sangat rumahan. Maklum memang di rumah hehe.




And with these gorgeous ladies




 I am so happy having them all. Thanks again for the love, girls






***




With Tuti. She is the youngest among all. Yeay, akhirnya nemu sesama gadis kelahiran November. Dia baru saja berulang tahun 27 November kemarin. Keep inspiring shalihah. Sang Kepala Sekolah kami di tahsin for kids. Love you ukhti. Thanks for the gift and beautiful letter. Semoga segera bertemu jodoh terbaik. Beruntungnya lelaki itu kelak memilikimu my dear.



With Shofi, thank you my darling for this wonderful experience. Teman seperjuangan di Edu karena kita satu angkatan masuk bareng dan insya Allah akan lulus bareng. Shofi ini wanita yang sangat lembut. Saya melihat dia memiliki karakter wanita Jawa sesungguhnya. Dia juga suka masak loh. Ah, beruntung deh yang kelak jadi suaminya.




Dengan Wiwik, gadis bali tapi tinggal di Palu. Hey, gadis yang selalu ceria. Terimakasih sudah mewarnai hari-hariku. Dia wanita yang penuh cinta. Cinta kepada semua orang. Tolong bagi siapapun yang suka dengan gadis ini, please jangan tunggu lama-lama ya. She is so kind and lovely.




Dengan Miftahul Hidayah a.k.a Uul. Si gadis minang. Terimakasih banyak ukhtiku atas segala pengorbanannya untuk surprise ini. MasyaAllah she is so angelic. Hello para ikhwan di luar sana, jangan ragu untuk segera datang meminangnya. Dia ini ngajinya bagus banget loh. Anw, thanks banget sudah kasi hadiah buku “Strengths based Leadership” ahh…untung aku belum beli ya hihi..








And with Rina Febrina Sari, si gadis Palembang. Thanks for everything ukhtiku. Sudah mengorbankan segala waktu, harta, dan tenaganya untuk ini. Terimakasih atas videonya yang bikin terharu sekaligus ngakak. Juga kalender 2017 dengan foto-foto kami hehe, so sweet banget kan ya, so creative. She is my travel buddy, teman travelling sampai ke Europe. Kalau bukan dia nih yang maksain aku untuk ikut Conference, aku gak bakalan ke Europe bareng dia. Terimakasih sekali untuk bersedia mengajakku. I am so grateful for that. You open the window for my dream to UK. Ah, baik banget kan. Hello, dia ini juga sangat high achiever. Dan aku suka semangatnya. Pokoknya akademis itu sangat penting baginya. Sepertinya nilainya selalu tinggi hehe. Please ya guys ya suka sama dia di luar sana. Jangan menunggu terlalu lama. Segera datangi orang tuanya. Sayang banget deh kalau gak mendapatkannya.

Thanks again for these gifts my lovely girls.






:: Ini ungkapan jujur dari the quality of control loh hihi....
             

Melbourne, 1 Desember 2016

Kualitas Hidup


Katanya kualitas hidup kita tergantung bagaimana kualitas hubungan kita dengan Allah. Setiap kebaikan apapun yang kita lakukan meski itu tidak bernilai besar di mata manusia, Allah tetap menghitungnya sebagai kebaikan. Allah tetap tahu cara membalas hamba-hamba-Nya. Hanya Allah yang tahu bagaimana kondisi hati setiap hamba-Nya. Tidak ada yang bisa mengukur keikhlasan dan kedalaman hati seseorang. Maka yang pantas kita lakukan adalah berbaik sangka terhadap siapapun selama keburukan itu tidak ia tampakkan di hadapan kita.

Kalau dalam ukuran atau standar manusia saat ini, kualitas hidup seseorang mungkin dinilai dari standar duniawi semata seperti sebanyak apa hartanya, setinggi apa gelar dan pangkatnya, sepopuler apa dirinya. Kalau dalam hidup ini yang dituju adalah kebahagiaan maka tentu yang tercukupi secara materi, pangkat, dan popularitas semestinya bahagia. Pada kenyataannya tidak selalu. Atribut yang diasosiasikan dengan kebahagiaan tersebut justru dalam beberapa kejadian membuat orang-orang mudah stres dan was-was. Kebahagiaan tidak akan datang kepada orang yang hatinya tidak tenang dan tidak pandai bersyukur.

Tercapainya impian-impian atau target-target yang pernah kita rencanakan mungkin mendatangkan kebahagiaan. Perasaan itu akan muncul sesaat tepat ketika kita berhasil mencapainya. Tetapi setelah itu, perasaan itu akan berubah menjadi biasa ketika tujuan telah tercapai. Bagi saya, mungkin seperti itulah standar bahagia dalam pandangan manusia. Ujung-ujungnya yang dicari adalah kebahagiaan yang hakiki bukan? keadaan emosilah yang paling penting. Misalkan respon apa yang kita berikan setelah kita mendapatkan apa yang telah kita impikan. Kemana kita mengembalikan semuanya. Bahwa semua itu tidak lain tidak bukan anugerah dari yang Maha Kuasa. Dia-lah yang memampukan kita. Dia-lah yang menjadikan itu mungkin bagi kita. Maka itu semua adalah wujud dari berkah yang ia berikan bukan karena hasil usaha kita semata.

Rasa syukur adalah penentu emosi kita. Jika tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang kita dapatkan maka pahala syukur itu adalah peluang. Rasa syukur bisa juga berarti kita tidak ingin nikmat itu berhenti di kita. Kita perlu membagikannya. Orang yang bahagia akan bahagia melihat orang lain bahagia. Sebab bahagia itu tidak akan muncul bagi orang yang masih ada rasa iri di dalam hatinya. Semoga kita dijauhkan dari perasaan-perasaan negatif seperti ini. Jika kita diberi nikmat, maka mari kita gunakan nikmat ini untuk semakin menaati Allah. Salah satu contoh mensyukuri nikmat kecantikan dan keindahan bagi wanita adalah menutup aurat dengan baik. Jika sudah mulai menutup aurat, maka istiqomahlah, jangan dilepas lagi.

Jadi kualitas hidup kita bukanlah dinilai seberapa banyak harta, gelar, popularitas atau bahkan pengetahuan yang kita miliki. Tetapi sejauh mana kita menggunakan itu semua agar semakin dekat kepada Allah. Banyak orang-orang yang hidupnya biasa saja di luar sana bahkan mungkin tidak seberuntung kita tetapi mereka sangat mulia di hadapan Allah. Mereka cukup bahagia dengan kondisi yang membuat mereka bisa beribadah dengan baik kepada Tuhannya. Meskipun dalam kondisi yang tidak seleluasa kita. Ada banyak contoh yang mungkin bisa kita pelajari dari Rasul dan para sahabat. Bahwa dalam kondisi dan ujian hidup yang berbeda-beda, tujuan mereka tetap sama, yakni berusaha meraih kemuliaan di hadapan Allah.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Melbourne, 29 November 2016

Subuh di Vienna



Home is not where you come from, but how you make it (Tiger Lily_Pan, 2015)

Perjalanan kami di Vienna dimulai setelah sholat subuh. Vienna Islamic Center adalah satu-satunya masjid yang sempat kami kunjungi di Eropa. Dimana pun itu, dalam pengembaraan apapun, rumah Allah adalah tempat kita merasa bahwa hati itu akan selalu terkoneksi dengan Rabb. Rumah yang akan tetap kita cari di belahan bumi manapun kita injak. Rumah ini telah menghubungkan hati seluruh muslim di seluruh dunia.

Ada perasaan senang ketika berhasil mengunjungi masjid yang cukup besar di Vienna ini. Meski masjidnya tidak buka setiap saat, tetapi setidaknya kami berhasil menginjakkan kaki di sini. Seperti kebanyakan masjid yang diramaikan oleh jamaah laki-laki, hanya kami berdua yang menjadi pengunjung perempuan. Itu pun ketika beberapa jamaah telah bubar.

Seorang remaja alhamdulillah menolong mengantarkan dimana ruang jamaah perempuan. Dengan bahasa Inggrisnya yang hanya sepatah dua kata. Dia dengan sabarnya mengantarkan kami hingga masuk ke masjid. Awalnya, pintu khusus wanita tertutup. Maka kami melewat pintu utama. Masjid ini lumayan besar. Saya pikir penerimaan islam di Vienna cukup baik. Hanya saja, masjidnya tidak buka setiap saat seperti di Indonesia. Hanya ketika waktu shalat saja dan acara-acara penting lainnya. Halamannya pun sangat luas. Ada tenda dan kursi-kursi yang terletak di depan masjid.

Negara ini telah memberikan keleluasaan kepada minoritas. Dan tentu muslim patut bersyukur dengan izin tersebut. Mungkin kaum muslim di Vienna memahami sebagai penduduk minoritas mereka tetap menjaga adab. Mereka mungkin menyadari bahwa aktivitas keagamaan perlu disituasikan. Tanpa menganggu aktivitas penduduk setempat. Sama seperti halnya di Melbourne.

Sebenarnya kami ingin sedikit berlama-lama di masjid ini. Namun, masjid ini terkunci di waktu-waktu tertentu. Mungkin sang marbot heran kenapa ada dua orang muslimah yang terdampar subuh-subuh hehe. Ya, kami menyadari saat sang marbot mengingatkan kalau masjid akan tutup, maka usai sholat kami terpaksa keluar meskipun ingin lebih lama berisitirahat. Kalau saja ada kesempatan lebih lama, ingin sekali rasanya mengeksplor sejarah masjid ini dan jejak islam di Vienna. Tapi tulisan di masjidnya bahasa Jerman dan tak ada yang bisa diajak berdiskusi. Walhasil, tidak ada informasi yang bisa kami rangkum. Mungkin akan tetap menggunakan bantuan Om Google. Alhamdulillah, akhirnya menemukan masjid ini, saya bisa sholat sebagaimana mestinya. Sisanya saja kadang jamak qashar di train atau bus. Thank a lot to my travel buddy Rina Febrina Sari.

Melbourne, 23 November 2016

Perjalanan



Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan" QS. 67:15

Perjalanan yang paling indah sesungguhnya adalah perjalanan yang mengingatkan kita kepada Tuhan. Dan perjalanan penuh ruhiyah paling mungkin kita temukan ketika berhaji atau umrah, mengunjungi tanah suci. Meski, setiap sudut yang ada di bumi adalah bumiNya Allah, maka sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memuji ciptaanNya.

Manusia memang yang membuat tempat-tempat indah yang ada di bumi ini, tapi Allah lah yang memampukan mereka. Allah lah yang mengizinkan itu semua terjadi. Untuk tetap menjadikan setiap perjalanan ini bermakna, mungkin kita perlu mengaitkannya dengan kuasa Allah di dalamnya. Sebenarnya apa yang nampak di hadapan manusia adalah indah-indahnya saja. Ada perjuangan, pengorbanan, keletihan, kemampuan untuk bersabar, kepasrahan, dan pengambilan keputusan yang tidak mudah di dalamnya untuk mencapai langkah-langkah itu.

Dalam perjalanan ini sebenarnya saya belajar tentang arti kesempatan dan atas izin dari Allah. Jangan mudah menyerah dan berburuk sangka dengan diri sendiri. Apalagi berburuk sangka terhadap kemahaluasan Allah. Kadang kala kita selalu mendahului takdir Allah, padahal ada hikmah luar biasa di dalamnya ketika kita melalui hidup ini apa adanya. Apa adanya yang saya maksud di sini bukan tentang kita berpangku tangan dan tidak berbuat apa-apa. Kita tetap memiliki target, tetapi ketika itu tak berjalan mulus maka lalui saja setiap jalan yang dibentangkan di hadapan kita. Bukan menggurutu dan mengutuk takdir.

Pada akhirnya setiap kesulitan akan kita lalu dengan hati yang lapang. Jika kita selalu menganggap bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita itu ada dalam rencana Allah. Maka nikmati saja setiap peran hidup kita sambil bersandar kepadaNya. Kesempatan itu adalah rezeki maka saya berbaik sangka kepada Allah bahwa ini bagian dari rencana terbaikNya untuk saya. Semoga.

Sebagai seorang muslimah, saya tetap beranggapan bahwa setiap perjalanan itu baiknya ditempuh dengan mahram. Maka, jika itu bisa kalian wujudkan maka beruntunglah. Saya dan teman perjalanan kali ini akhirnya setuju bahwa perempuan memang butuh laki-laki untuk mengayomi dan melindungi. Bukan untuk menyaingi. Betapa rempongnya kami berdua dengan barang-barang. Bukan pula berarti kami tidak kuat. Ada keadaan ketika level tenaga itu sudah seharusnya dibagi dan diistirahatkan, tetapi kita tetap memaksakan. (Ini bukan bermaksud baper hehe).

Mungkin saya termasuk orang yang tidak setuju kalau peran laki-laki dan perempuan itu bisa dibalik. Saya tetap menyadari kondisi fisik dan jiwa setiap laki-laki dan perempuan sudah diatur sedemikian rupa sesuai kadar dan kodratnya. Tidak usah dibolak-balik. Hikmah perjalanan kali ini pun mengajarkan, perempuan dan laki-laki itu saling membutuhkan dan melengkapi. Perempuan tetap butuh dilindungi. Tetapi, jika kalian masih sendiri tetap bersyukur dengan keadaan masing-masing. Sekali lagi, syukuri setiap kesempatan yang Allah berikan.

Paris-Amsterdam, 16 November 2016

Berbaik Sangka Kepada Allah



Berkuliah di luar negeri mungkin menjadi impian banyak orang. Siapa sangka pilihan hidup saya setahun yang lalu ternyata mengantarkan saya mewujudkan harapan-harapan yang lain. Yang tidak pernah terlintas di pikiran saya bahwa saya bisa mencapainya sekaligus. Bukan bermaksud untuk mengejar impian-impian dunia. Karena hati manusia tidak akan puas jika mengejar dunia semata. Kejarlah akhirat maka dunia akan ikut. Begitu prinsip saya. Saya selalu berbaik sangka kepada Allah bahwa setiap takdirnya pasti baik untuk hambaNya.


Setahun lalu saya memutuskan mendaftar di Monash Uni di Australia yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk memilih kampus ini. Negara tujuan saya adalah UK. Kalaupun itu di Aussy saya tidak pernah melirik Monash. Hanya saja waktu itu offer Uni yang saya tuju berbelit-belit dan lama. Dan saya tidak punya waktu lama. Jadilah saya meminta agen untuk mendaftarkan saya di Monash Uni.

Waktu itu karena salah satu teman selama pembinaan juga sedang mendaftar di Uni ini. Siapa sangka memilih negara Aussy dan Monash Uni justru mengantarkan saya meraih harapan-harapan yang selalu ada di hati saya meski tidak pernah menjadi ambisi. Impian itu hanya terlintas di ucapan-ucapan sambil lalu seperti misalkan saya ingin sekali mengunjungi Jepang dan UK. Alhasil, Allah memberikan sesuatu yang lebih dari yang pernah saya impikan. Saya benar-benar mengunjungi negara yang pernah sangat ingin saya kunjungi.

Siapa yang menyangka juga kalau mengambil keputusan untuk berkuliah di Monash ternyata memudahkan saya untuk berislam dengan baik. Makanan halal dan komunitas muslim tidak jarang ditemukan. Saya tetap bisa menyeimbangkan segalanya.

Saya tidak pernah bermaksud menyempitkan pikiran saya. Saya hanya hamba yang berusaha untuk berbaik sangka terhadap apa yang dianugerahkan oleh Tuhan dalam hidup saya. Ada pahala syukur di dalamnya ketika kita tetap menghamba ketika harapan-harapan kita diwujudkan. Maka semestinya ketaatan kita dikencangkan, ketakwaan kita ditingkatkan. Jangan sampai kita kufur nikmat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan.

Being a one-day Oxford Uni's student 😂


Oxford, 9 November 2016

Cahaya

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
(Coldplay)
Kehidupan tidak akan sempurna tanpa cahaya. Untuk mencari sebuah tempat dimana kita bisa menemukan kenyamanan dan ketenteraman, kita membutuhkan cahaya. Cahaya bisa menyelamatkan kita dari salah arah.
Benar kata Coldplay, cahaya akan menunjukkanmu jalan pulang. Cahaya bisa lebih dari apa yang bersinar di muka bumi. Cahaya tidak selalu berasal dari matahari yang ketika sore kau bisa melihat warna keemasan memenuhi langit. Bahkan keindahan senja pun pada akhirnya akan hilang saat malam menelan matahari. Dan pergantian itu menegaskan bahwa malam menjadi penguasa langit.
Kita selalu mencari-cari cahaya bahkan ketika kita terbangun dari tidur. Yang kita butuhkan pertama kali adalah cahaya yang bisa membantu penglihatan kita berfungsi sebagaimana mestinya. Matahari terbit melengkapi kesempurnaan cahaya yang ada di bumi.
Analogikan ilmu itu adalah cahaya. Ini spektrum yang lebih luas dalam hidup. Tentang bagaimana kita menjalani kehidupan. Tanpa cahaya (ilmu), maka hidup kita menjadi gagu. Hilang arah. Bahkan susah untuk membedakan mana yang benar dan salah. Mana yang terang dan mana yang gelap. Ilmu adalah cahaya yang bisa menyelamatkan kita dari ketersesatan dalam hidup. Bahkan cahaya itu yang bisa menunjukkan arah untuk bisa pulang ke rumah abadi. Cahaya itu mengantarkan kita tidak hanya selamat di dunia tetapi juga di akhirat. Cahaya itu berupa wahyu yang telah sempurna berabad-abad lamanya.
Tugas kita menjemput cahaya itu. Seperti kita menanti senja yang indah dari tempat dan sisi manapun. Kita tidak hanya menatapnya tapi juga memujinya bahkan mengambil hikmah di baliknya. Temukanlah cahaya di sekelilingmu. Dia sudah ada. Mungkin saja engkau yang menutup mata dan selalu mengaggap bahwa ia belum menyapamu. Ia belum mengetuk pintu hatimu. Cahaya itu sungguh dekat.
Ketahuilah, semakin kelam malam, semakin cepat datangnya cahaya. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Cause lights will always guide you home.
Melbourne, 4 November 2016


Intellectual Journey


Hari ini saya mengikuti launching sekaligus bedah buku "Berlayar" yang ditulis oleh para akademisi ataupun praktisi yang sedang menempuh S3 di universitas-universitas yang ada di Melbourne. Ada juga yang baru saja selesai dalam proses berlayarnya. Saya tidak akan mengupas tentang isi bukunya. Karena bukunya pun baru saja saya miliki tadi. Kelak buku ini akan berguna untuk proses berlayar saya dalam lautan ilmu menuju Doctor of Philosophy someday. InsyaAllah. Tapi ada banyak hal yang menarik yang bisa saya petik.

Saat ini saya sedang berada di fase menuju Master. InshaAllah satu semester lagi. Apa yang saya rasakan adalah benar ini adalah "Intellectual Journey" mengutip pernyataan salah satu pembicara, Prof. Denny Indrayana. Jujur saya bukan tipe akademis. Yang jadwal belajarnya terkontrol. Di sisi lain saya juga bukan orang terlalu banyak main atau mengeksplor banyak hal. Jadi saya tidak tahu saya termasuk tipe mahasiswi apa. Tapi saya suka membaca sesuatu secara random jika itu benar-benar menarik minat saya. Bagi saya memulai S2 ini benar-benar sesuatu yang harus saya mulai dari awal. Saya tidak berasal dari jurusan dan kampus pendidikan. Tapi, berani mengambil jurusan pendidikan hanya karena ada impian dan idealisme kecil saya. Bagaimanapun kita tidak bisa terlepas dari yang namanya pendidikan. Bahkan untuk mengatur diri sendiri dan keluarga kita butuh tercerahkan dengan level berpikir yang sedikit tinggi dari S1 apalagi untuk mengatur masyarakat. Meskipun tidak ada jaminan bahwa mereka yang telah lulus dari program postgraduate bisa lebih sukses dari S1.

Harapan saya sebenarnya sederhana setelah menempuh perjalanan ini. Saya ingin menjadi lebih bijak dengan ilmu yang dimiliki. Bagi saya, setinggi-tingginya gelar pendidikan seseorang kalau ia tidak berkarakter sepertinya ia gagal dalam proses berlayarnya. Karakter yang saya maksud di sini adalah sejauh mana ketundukannya terhadap nilai ketuhanan yang mereka pegang. Semua ini adalah proses, dan kita senantiasa memperbaiki diri untuk menjadi lebih bijak dan bernilai di hadapan Sang Pencipta.

Setiap orang tentu punya suka duka masing-masing dalam meraih gelarnya. Yang bermakna mungkin bukan tentang hasil akhirnya, tetapi proses menuju tujuan akhir itu. Ada berapa banyak ilmu yang kita serap selama proses itu. Termasuk ilmu-ilmu tentang kesabaran, pengendalian diri, kesungguhan, pengorbanan dalam mengerjakan tugas-tugas. Dan bagaimana kita tetap mendahulukan hak dan kewajiban kita sebagai hamba ketika sedang menempuh perjalanan intelektual ini. Meski hasil tidak akan mengkhinati proses. Mereka yang hasilnya di atas rata-rata tentu proses yang dikerahkan juga di atas rata-rata.

Dalam kepala kita mungkin punya tujuan masing-masing akan dibawa kemana gelar ini. Untuk menambah sedikit huruf di belakang nama kita saja, kita perlu banyak pengorbanan. Termasuk negara yang telah mengorbankan anggaran. Maka kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Nasihat kepada diri sendiri. Sejatinya kita harus tetap menyadari bahwa tujuan kita menuntut ilmu mungkin bukan hanya tentang intellectual growth, tetapi juga emotional dan spritual growth.

"I constantly sought knowledge and truth, and it became my belief that for gaining access to the effulgence and closeness to God, there is no better way than that of searching for truth and knowledge.” - Ibn al-Haytham

Melbourne, 28 Oktober 2016

:: the photo was taken in Mba Novi's graduation day last year @MonashUni

Keseimbangan


Sejatinya manusia diciptakan selain sebagai hamba untuk beribadah, tetapi juga sebagai khalifah, pengatur kehidupan. Tentu saja untuk mengatur kehidupan ini semua butuh ilmu. Kesempatan menuntut ilmu dunia di negeri orang adalah sebuah kesyukuran yang tak dimiliki oleh sebagian orang. Saya menganggap ini adalah sebuah jalan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Kelak ilmu-ilmu dunia ini kita butuhkan untuk mengatur lingkungan kita atau apa-apa yang bisa kita pengaruhi. Maka beruntunglah orang yang memiliki potensi ini.

Tetapi, ilmu dunia tidak cukup untuk mengatur kehidupan. Kita butuh bimbingan wahyu. Ilmu ini adalah kunci untuk bisa sukses dunia akhirat. Saya tidak menemukan alasan yang lebih logis bagaimana mengatur kehidupan ini tanpa agama. Pencarian-pencarian saya tentang ilmu dunia tidak bisa memuaskan akal dan menentramkan hati saya. Setidaknya kesadaran itu telah muncul untuk menambah bekal perjalanan.

Setelah hak-hak dan kewajiban-kewajiban pribadi terpenuhi. Mengubah wajah peradaban mungkin langkah selanjutnya yang bisa kita pikirkan. Potensi kita menjadi saksi untuk apa ia dimanfaatkan. Imam Al Ghazali pernah berpesan, "Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir." Ungkapan ini sangat filosofis. Saya menafsirkannya bahwa kualitas kita hari ini akan menetukan kualitas keturunan kita kelak. Maka menuntut ilmu akhirat maupun dunia oleh setiap individu adalah jalan memperbaiki kualitas generasinya mendatang.

Keseimbangan menjadi kekuatan untuk bisa membalikkan wajah peradaban. Kita tidak miskin, Potensi-potensi kita adalah modal untuk kemaslahatan ummat. Kesempatan menuntut ilmu dunia di negara maju adalah peluang untuk perbaikan ummat. Jangan dianggap ini tidak penting. Menjadi ahli dan profesional di bidang masing-masing adalah jalan untuk mengambil alih peradaban. Hanya saja, semua itu harus tercelup dalam konsep berpikir yang punya orientasi memakmurkan dunia dalam rangka beribadah dan menerapkan hukum-hukum Tuhan di muka bumi. Maka sungguh sempurnalah seorang muslim yang ilmu dunia dan akhirat dimiliki sekaligus. Tetapi seseorang baru dikatakan berilmu ketika ia sudah mengamalkannya. Selanjutnya membagikannya.

Melbourne, 161016

Perempuan dan Harapan


Kalau saja bahagia itu berwujud, 
mungkin ia akan menyerupai senyummu yang tertangkap oleh mataku

Kalau saja cinta itu berwujud,
mungkin ia menjelma bunga-bunga yang selalu kau kagumi

Kalau saja rindu itu berwujud,
mungkin ia menjelma hujan yang jatuh di halaman rumahmu

Apa yang membuat seorang perempuan memiliki harapan?
Aku bertanya
mungkin hatinya ingin menyentuh kebaikan
mungkin langkah kakinya sedang menapaki mimpi-mimpi
Bahwa ia sedang mempersiapkan surga di dalam rumahnya

Tiba-tiba matamu berkaca-kaca
Tak berapa lama kemudian, senyummu merekah
seperti hujan yang baru saja menghapus kemarau panjang
Dan kamu baru saja melupakan kesedihanmu
begitulah hati mengajarkan hidup

Semoga berkah umurmu, duhai saudariku
Terimakasih atas inspirasinya
Aku menyayangimu karena Allah!



Melbourne, 28 September 2016 

Singgah



Aku ingin lebih lama lagi di sini. Suara yang entah datangnya darimana ini yang seringkali kuulang dalam setiap perenunganku. Mungkin, aku bahagia di sini. Rasa bahagia yang ingin kubagi padamu. Tapi, aku tidak tahu caranya. 


Andai kau bisa pinjam hatiku, coba rasakan bahagia yang kurasakan. Adakah ia semu atau ini adalah bahagia yang tertuntun?

Pagi ini aku menghubungimu. Suaramu di seberang sana terdengar tenang. Dan aku selalu bahagia setelah itu. Aku sedang berusaha memperbaiki segalanya. Termasuk menjahit luka yang belum bisa kau sembuhkan. Aku juga masih berusaha memperbaiki diriku sendiri. Tapi, mohon bantu aku. Bantu aku dengan doamu. 

Maafkan aku yang sedang menempuh perjalanan ini. Jika aku tidak menghubungimu beberapa saat, mungkin aku sedang menambah pengetahuanku. Aku berharap matahari akan selalu mengiringi langkahmu. Ketika malam, bulan akan menggantikannya. 

Aku hanya singgah di sini. Ketika waktunya tiba, jalan-jalan yang berbatu dan berkerikil itu akan kulalui lagi. Seperti yang selalu kau tapaki usai sholat subuh. Menunggu warna ungu di atas sana berganti cerah. Tapi kau sering kembali sebelum matahari benar-benar terbit. Katamu, kau bahagia dengan itu.

Bukankah selalu ada cara lain untuk menuntaskan rindu? Kita punya bahasa doa. Dan sepertinya doa adalah cara menuntaskan rindu yang paling romantis. Karena kau meneruskan namaku sampai ke langit. Bisa jadi karena doamu. Aku terhindar dari keburukan. Meski kau tak benar-benar ada di depan mataku untuk menolongku. 

Sungguh, bahasa-bahasa yang keluar dari bibirmu itu adalah hal yang selalu bisa menenangkan kegelisahanku? Lalu aku butuh apa setelah itu?

Kata Kahlil Gibran, “Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia. Dan ‘Ibuku’ adalah sebutan terindah.”


Melbourne, 27 September 2016

Inspirasi

Ada dua jam di kamarku yang detakannya beriringan
Satunya jam dinding
Satunya lagi jam weker berwajah panda

Kala hening datang, yang terdengar hanyalah obrolan mereka berdua
Aku ingin masuk, tapi ada bahasa-bahasa yang tak akan pernah kupahami
Perbincangan waktu yang rumit


Aku adalah pendengar setia perbincangan serius itu
sambil menatap bukubuku yang berbaris di meja belajarku
atau sesekali mengarahkan pandangan ke layar komputer. Kosong.

Mereka memutar waktu begitu cepat

Kadang dalam lamunan
atau dalam keadaan kau tidak sedang berpikir
tibatiba Tuhan menyentuh pikiranmu
seperti sehelai daun yang baru saja digugurkan
kau memungutnya
ini inspirasi yang baru saja dihembuskan
Kau menemukan sebuah ide

Terima kasih malam yang masih dingin!

Melbourne, 23.45,13/9/16

Mencipta Kebahagiaan

 

Setiap daun yang jatuh adalah takdir 
Kadang anginlah yang menjadi sebab
Sama seperti dalam hidup, tidak ada hal yang jatuh sia-sia

Setiap daun yang jatuh punya cerita
Dan setiap cerita adalah pelajaran
bagi orang-orang yang tahu arah hidupnya

Ketika senang, kamu bersyukur
Ketika sedih, kamu bersabar
Bukankah tidak ada hari yang buruk?

Meski musim berganti empat kali di kota ini
Hatimu yang tetap tahu jalan pulang
lebih indah dari bunga yang baru saja bersemi 

karena bahagia itu,
kita ciptakan sendiri
di hati

Melbourne, 11/ 9/16

Seseorang yang Hatinya Terpaut di Masjid


Ada 7 golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah; salah satunya ialah seseorang yg hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mungkin lebih dikhususkan kepada laki-laki. Tapi, saya sedikit ingin bercerita tentang hati yang terpaut di Masjid. Setahun yang lalu, ketika saya baru tiba di Melbourne, saya langsung mencari komunitas-komunitas yang mungkin bisa menjaga agar hati saya tidak kehilangan ruh. Ketakutan saya kadang muncul ketika di sebuah negeri, saya tidak menemukan tempat-tempat yang bisa mengingatkan saya kepada Allah. Maka, ikutlah saya ke pengajian subuh di Masjid Westall bersama teman kala itu, ketika kami masih satu kosan. Kebetulan ada tetangga yang setiap minggu subuhnya rutin ke pengajian pagi ini. Maka kami pun dengan senang hati ikut. Meski isinya adalah ibu-ibu semua. 

Satu semester itu berjalan dengan baik. Saya rutinkan untuk ke masjid tiap minggu pagi, kecuali kalau tidak ada yang ditebengi. Saya juga menyempatkan ikut halaqah-halaqah di kampus atau di luar kampus. Pokoknya setiap ada majelis ilmu, saya akan datangi. Meskipun itu jauh, saya usahakan untuk datang. Semester berikutnya, saya sudah tidak pernah lagi ke masjid. Salah satunya karena kesibukan (ah, alasan). Teman ke masjid juga sudah tidak ada, karena dia pulang kampung dan pindah kosan setelah itu. Tapi, saya tiba-tiba berefleksi. Kenapa keadaan saya waktu itu tenang, teratur, dan setiap urusan Alhamdulillah lancar. Di akhir semester, nilai saya juga bagus. Saya sangat puas. 

Semester selanjutnya, saya akui sudah jarang lagi mengikuti  halaqah ilmu selain halaqah pekanan bersama teman-teman. Saya jelas mengalami penurunan kualitas ibadah. Semangat belajar saya agak menurun. Jadwal saya tidak teratur seperti semester sebelumnya. Pengelolaan waktu saya menjadi buruk. Akhirnya dibuktikan dengan nilai di akhir semester yang tidak sebagus sebelumnya. Kok, tiba-tiba saya mengaitkan adakah semua itu terjadi dipengaruhi oleh kondisi iman saya? Jujur, di kedua semester itu, saya bisa menilai sendiri keadaan diri saya.

Maaf jadi curhat. Tapi, sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah saya selalu kagum kepada lelaki yang hatinya terpaut di masjid. Sungguh, kalau kalian menemukan orang seperti ini. Kalian termasuk yang beruntung. Sangat langka orang seperti ini. Apalagi kalau kalian menemukannya di tempat yang memang masjid itu sangat langka. Seperti di luar negeri mungkin. Saya jadi teringat nasehat kawan saya. Katanya orang soleh itu sedikit! Jadi, kawan-kawan kalau mau cari pendamping hidup, cari yang hatinya selalu terpaut di masjid ya! 

Jumuah Mubarak!!!

Melbourne, 9/9/16

Memajang Foto di Dunia Maya

Saya tidak tahu kapan ini bermula. Dulunya, saya sangat jarang sekali meng-upload foto diri di media sosial. Bahkan orang-orang tidak akan mengenali siapa saya sebenarnya saking tidak ada satu pun foto wajah saya yang nampak. Baru setahun belakangan ini, semua itu bermula. Sebenarnya ini bukan sesuatu yang haram dan saya tidak menyalahkan siapapun yang mau mengupload foto wajahnya di media sosial. Hanya saja, saya kembali berpikir untuk apa semua itu saya lakukan? Penghargaan siapa yang ingin dicari? Apa niat dalam hati saya? Saya berkontemplasi. Tidak ada satu jawaban pun yang saya dapatkan selain ingin agar dilihat oleh manusia. 

Diskusi ini berlanjut dengan beberapa teman di sebuah grup di WA. Ya, kami bersepakat bahwa ini tidak haram selama foto-fotonya menutup aurat dan sopan, tidak berlebihan seperti yang diungkapkan oleh Ustadz Felix Siauw di akun facebooknya. Saya bisa menerima penjelasan itu. Baiklah, kita bersepakat untuk mengembalikan ke niat masing-masing. 

Tapi kemudian pertanyaan yang muncul. Apa niat kita, kalau bukan ingin dilihat oleh manusia, ingin mendapatkan penghargaan atau penilaian manusia, bukan? Apalagi yang diupload adalah foto-foto pilihan yang cantik-cantik, pemandangannya bagus, seni fotografinya oke. Hmm, jelas semuanya hanya untuk menarik perhatian manusia. Jujur, awalnya saya alergi pasang foto wajah di media sosial, tapi karena teman-teman dan keluarga di Indonesia ingin tahu kabar saya dan ingin melihat keadaan saya di luar negeri, maka saya memutuskan untuk mengupload sesekali. Oh iya satu lagi, karena beberapa teman tidak mengenali saya, karena tidak ada satu pun foto yang menampakkan wajah saya terpasang di media sosial. Semuanya mungkin berawal dari sini.

Hanya saja niat saya menjadi berubah dan saya semakin aktif memajang foto diri di media sosial. Saya ketagihan mengabarkan setiap kejadian dan tempat-tempat indah yang saya kunjungi di media sosial. Sekali lagi ini tidak haram dan saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja ini refleksi diri saya pribadi. Untuk apa semua itu saya lakukan dan apa niat saya. Saya belum menemukan jawaban yang bisa memuaskan hati. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menghapus beberapa foto yang diambil dari jarak dekat. Saya tetap akan mengupload foto diri, ya untuk sekadar mengabarkan ke keluarga dan teman-teman. Tapi, sungguh media sosial ini menjadi ajang untuk pamer apa-apa. Niat kita benar-benar dipertaruhkan. Orang-orang berlomba-lomba menampilkan yang terbaik dari dirinya. Saya pun akhirnya ikut-ikutan. Ya Allah, begitu mudahnya hati ini mengikuti standar sosial masyarakat. Saya semakin merenung, kita memposting sesuatu sebagaimana kita ingin orang lain melihat kita. Kita tentu tidak ingin memposting foto yang kita tidak ingin, orang lain lihat. Jelas sekali, penghargaan siapa yang kita cari. 

Saya juga belum bisa untuk tidak mengupload foto diri, apalagi beberapa foto saya sudah tersebar di akun teman-teman yang lain. Ya Allah, semoga ketika mengupload sesuatu, orang-orang tidak mendapat hal buruk dari itu, tetapi justru mendapat sesuatu yang baik. Seperti mendapat inspirasi mungkin. Tapi, jujur saya memang ikut-ikutan tren Instagram. Semoga niat saya bisa terus diluruskan bahwa ini bukan bermaksud riya' atau pamer. Semoga bisa menginspirasi teman-teman di dunia maya. 

Melbourne, 5 September 2016

Mengarahkan Potensi

Hari ini saya menghadiri pengajian bulanan LPDP Victoria. Temanya tentang peran pemuda dalam Islam. Saya tidak begitu mencatat isi kajiannya. Tetapi, saya berefleksi apa yang sudah saya lakukan untuk agama ini. Allah sudah memberikan saya banyak kesempatan dan nikmat yang cukup banyak yang tidak bisa dirasakan oleh banyak orang lain seperti menuntut ilmu di luar negeri. 

Saya akui ini semua datangnya dari Allah, bukan semata-mata hasil usaha saya. Alangkah sombongnya saya, jika menganggap ini semata-mata usaha dan kerja keras saya. Sesungguhnya peran Allah besar di dalamnya. Tetapi, terkadang sebagai manusia biasa, kita melupakan kewajiban-kewajiban kita termasuk kewajiban kepadaNya. Mungkin terkadang saya sibuk mengejar impian-impian dunia saya dan lupa terhadap apa yang sesungguhnya ingin saya persembahkan untuk din ini. Potensi apa yang bisa saya sumbangkan untuk kemuliaan agama ini. Saya merasa begitu jauh dari orang-orang yang hidup dan matinya itu untuk amar ma'ruf nahi munkar. 

Apalagi jika menilik sejarah bagaimana pemuda-pemuda Islam bergerak menyelamatkan peradaban. Sebut saja sahabat rasul, Usamah Bin Said, dia adalah panglima perang termuda, pada usia 18 tahun telah memimpin kaum Muslimin melawan Romawi. Atau Muhammad Al Fatih, pada usia 21 tahun telah berhasil menaklukkan Konstantinopel. Jika mereka pada usia tersebut telah sanggup mengatur pasukan besar, bagaimanalah saya yang mungkin terkadang mengatur diri sendiri saja masih susah. 

Al-wajibat aktsaru minal awqat (kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia). Saya lupa siapa yang mengatakan ini. Tetapi, ini semacam kata bijak orang Arab. Betapa banyak yang harus kita lakukan sementara waktu tidak cukup. Oleh karenanya kita butuh manajemen waktu. Kita perlu mengatur waktu dengan baik. Saya pun merasa ini kelemahan saya. Saya masih terus belajar mengatur hidup saya. Ada berapa banyak hal-hal mubah yang saya lakukan? Yang tidak ada manfaatnya untuk peningkatan kualitas iman dan amal saya. Sudah bermanfaatkah saya untuk orang lain? 

Saya menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Kampung kita sesungguhnya adalah akhirat. Tugas kita sebagai khalifah, yang tidak hanya bertugas untuk menjadikan dunia ini menjadi tempat yang lebih baik, dengan potensi akal dan diri kita masing-masing, tetapi juga ada visi akhirat di dalamnya. Bahwa semuanya ditujukan untuk menggapai ridha Allah. Potensi kita berbeda-beda. Tapi, semua potensi itu adalah modal untuk memakmurkan dunia ini menjadi tempat yang lebih baik, mewujudkan peradaban yang agung. Semoga potensi-potensi itu kita kerahkan dan menjadi jalan untuk memasuki surga Allah. Aamiin.

1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS Al 'Ashr: 1-3)

Melbourne, 4 September 2016

Bangunkan Saya Ketika September Berakhir


Hello Spring! Pagi ini saat membuka Facebook, disambut dengan ucapan bahwa musim dingin telah berganti semi. Sama seperti Facebook, saya menetapkan perpindahan musim itu tepat di awal bulan. Padahal mungkin saja ia maju lebih awal atau mundur sedikit berdasarkan perhitungan saintifik. 

Hari ini tanggal 1 bulan September, saya teringat lagunya Green Day, "Wake Me Up When September Ends". Yup, sepertinya September akan membuat saya tertidur dengan assignment. Ada beberapa deadline di bulan ini. Termasuk deadline abstrak untuk conference, jikapun saya jadi ikut. Hmm, padahal topik belum fix di otak hendak menulis apa.  

Tidak terasa sudah bulan ke 9. Dan rencana-rencana yang pernah menggebu-menggebu sepertinya perlahan memudar. Seperti janji membuat antologi tulisan bersama teman-teman di sini yang saya tidak tahu apakah bisa benar-benar terealisasi. Semoga tidak hanya tinggal kata. 

Tentunya saya harus ingat tujuan utama saya di sini adalah belajar. Jadi, jurnal-jurnalnya jangan lupa dibaca, buku-buku yang dipinjam jangan lupa dibaca. Beberapa buku yang saya pinjam di perpustakaan masih tertata cantik di atas meja dan belum saya buka satu pun hehe... Oh, betapa manusiawinya diri ini. 

Sepertinya September akan ceria di Australia, mengikuti musimnya yang semi. Hope I can do the best for this semester. Wake me up when September ends!

Melbourne, 1 September 2016

Mencari Hiburan

Saya sengaja blogwalking dan menemukan sebuah puisi di blog seorang senior. Kemudian saya melihat ada link soundcloud di bawah puisi itu. Maka, tercetuslah ide ini. Bisa jadi ini salah satu hiburan penghilang stress saya. Maafkan senior saya menculik idemu. Saya sudah meminta izin di kolom komentarmu. Ternyata baca puisi seperti ini asyik juga. 


PADA SEBUAH MALAM, ENGKAU BERJALAN

Telapak kaki yang membawa langkah-langkahmu
pada sebuah malam yang dinginnya asing
adalah persembahan rahasia yang tak kau kehendaki.
Dan lengan jalanan lengang dipilih menjadi altarnya.

Daunan pohon di kiri-kanan mengingatkan
tak henti-henti sebuah kejadian
dari mimpi buruk dalam tidurmu.
Yang membuat segenap waktu adalah duka
hingga kau lupa pada rasa takut.

Dan bayanganmu ditelan bayangan pohonan
yang hilang jua di bawah bayangan langit.

Seperti inikah kehidupan di belakang punggung matahari?

Engkau bertanya kepada senyap yang melingkup.
Cahaya matamu meraba-raba arah dalam redup.
Gerangan di mana diletakkan seluruh tujuan.

Engkau terus berjalan di sela-sela percakapan
angin dan ranting-ranting yang tak kau pahami,
mengabaikan setiap persimpangan yang kau temui.

Seperti kakimu bukan kakimu,
seperti tubuhmu bukan tubuhmu,
Seperti segala sesuatu bukan milikmu,
kecuali pertanyaan,
sebab jawaban bukan pula pengetahuanmu.

Maka engkau terus berjalan.
Engkau terus berjalan…

(Puisi karya Aan Mansyur)

Masih belajar hehe... Ini linknya :)


Diberdayakan oleh Blogger.