Dekapan Sepi

Tidakkah kau merasa sunyi di tengah malam yang kian panjang?
Duka yang mengendap, perlahan-lahan kudekap dan kulepaskan di sisa-sisa panasnya musim panas

Perasaan-perasaan yang selalu terkejar waktu ingin kuabaikan
Tapi manusia tetap saja datang membawa kabar bahagia

Aku mencari cara agar tidak sepi
Buku-buku tak lagi membuang sunyi
Perjumpaan dengan orang-orang hanya menyembuhkan di salah satu ruang di dada

Tidakkah kau merasa perjalananmu semakin kuat tetapi hatimu semakin kosong?
Aku ingin lebih cepat berlari
Berjalanpun tak mengapa
Tapi sunyi semakin mencari
Dan aku tak tahu lagi kepada siapa harus berlari 

 
Melbourne, 19 Maret 2017
 

Pencarian Manusia

Matahari kali ini terbit menyimpan pesan dari langit musim panas
Dan angin pernah menyampaikan kabar tentang keberadaan orang-orang yang tertunduk dalam hening, terjaga dalam malu.

Kau yang mungkin dikirim lewat pertemuan antara keningku dan bumi
Masih saja rahasia yang mungkin sedang diperbincangkan dalam kicauan burung-burung
atau dalam deru angin gurun

Aku bercerita tentang bumi yang kusinggahi
Kau tetap saja disembunyikan oleh peredaran siang dan malam
Kemana langkah kakimu mencariku
Dimana pijakan kakiku menunggumu
Kemudian kita seolah lupa bahwa takdir hanya menitipkan harap ke dalam dada manusia.

Dan Tuhan membuka jalan lewat setiap harap yang mereka simpan



Melbourne, 13 Januari 2017

Kecocokan Jiwa




Dulu. Dulu sekali pemahaman saya tentang pernikahan harus ditempuh dengan cara pacaran. Untuk saling kenal mengenal membutuhkan percakapan dan pertemuan yang intens. Dalam beberapa kejadian, saya menemukan dan mengamati beberapa teman saya. Selalunya pihak perempuan tidak nyaman dengan hubungan lama tanpa kejelasan. Mereka selalu menanti kepastian dari sang lelaki.

Sementara di pihak laki-laki, tujuan mereka pacaran bukan untuk seserius perempuan. Tetapi menghabiskan waktu agar tidak sendiri. Agar bisa dengan mudah mencurahkan perasaan yang tidak bisa mereka bendung. Adapula dari teman saya yang secara frontal berujar bahwa dia pacaran hanya untuk bersenda gurau, berhura-hura, berfoya-foya.

Saya kemudian menyimpulkan, mereka yang menempuh jalan ini, sadar atau tidak sadar tujuan akhirnya adalah pernikahan. Kalau pacarannya serius mungkin bisa sampai ke pernikahan. Kalau hanya bersenda gurau, serba bebas, kejadiannya bisa lebih parah. Sepertinya, dalam masyarakat kita, pacaran masih menjadi keharusan untuk menuju jenjang pernikahan.

Sementara ada pula beberapa teman yang memasrahkan jodohnya pada pihak orang ketiga. Atau tanpa orang ketiga tetapi datang dalam keadaan siap kepada yang hendak dijadikan pasangan hidup. Mereka tidak menghabiskan waktu untuk bersenda gurau dan berkasih sayang sebelum waktunya. Karena bagi mereka pernikahan itu bukan tujuan. Melainkan awal. Awal perjalanan yang panjang, yang siap dihadapi bersama.

Pada kenyataannya, mereka yang tidak menempuh jalan pacaran, rumah tangganya tetap harmonis. Meskipun dalam beberapa kejadian ada juga yang gagal. Namun yang harmonis tetap lebih banyak. Mungkin karena niat awal mereka ikhlas mengharap ridha Allah demi menyempurnakan setengah agama. Yakni beribadah. Sehingga mempercayakan jodohnya kepada Allah adalah pilihan yang tepat. Sehingga cara-cara yang ditempuh harus dalam bimbingan wahyu. Tidak melanggar syariat.

Lalu pilihan itu ada di tangan masing-masing. Kalau tujuannya, pada akhirnya adalah pernikahan, tidak mestilah ditempuh dengan jalan pacaran. Jodoh sudah tertulis di Lauh Mahfuz. Yang Allah nilai kemudian prosesnya. Apakah ditempuh dengan cara-cara yang disenangi Allah atau tidak. Mintalah yang terbaik dari-Nya.

Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata Khalil Gibran yang mungkin mencerahkan, "Jangan anggap cinta datang dari persahabatan yang lama dan hubungan akrab. Cinta adalah anak keturunan kecocokan jiwa. Dan jika kecocokan itu tidak ada, cinta tak akan pernah tumbuh, dalam hitungan tahun bahkan generasi". Jadi, untuk membangun cinta, tidak butuh persahabatan atau perkenalan yang lama. Cinta adalah kesesuaian jiwa. Ketaatan dan keimanan adalah pondasi yang mencukupkan kesesuaian jiwa.

Semoga bermanfaat shalihin dan shalihat!

Melbourne, 10 Januari 2017

:: When in Paris, Eiffel Tower in the cloudy night 🗼🗼

Universitas Kehidupan



Dalam salah satu teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner, dikenal kecerdasan intrapersonal. Yakni kemampuan memahami diri sendiri, menghargai, memahami perasaan, keterbatasan, kekuatan, dan motivasi diri sendiri. Dalam pengamatan saya, biasanya orang-orang yang memiliki kecerdasan seperti ini adalah orang-orang yang pandai mengambil hikmah dalam kehidupannya. Mereka yang selalu tahu menyembuhkan dirinya sendiri. Mungkin mereka bisa cepat berdamai dengan konflik batinnya.

Ada sebuah kata bijak Arab yang menyebutkan, barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Meskipun saya kurang begitu paham apa maksud kalimat ini, tetapi saya secara pribadi mengaitkannya dengan kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan diri sendiri agar mengikuti suara-suara kebenaran dari dalam diri.

Katanya, naluri itu tidak pernah bohong. Bahkan seorang pencuri pun tahu kalau ia salah. Seorang pelacur pun tahu kalau kelakukannya tidak benar. Tetapi, mereka mengabaikan naluri-naluri yang ditiupkan Tuhan dari dalam diri mereka. Orang-orang yang tidak mengenal dirinya yang terdalam mungkin lebih mengikuti hawa nafsunya. Disadari atau tidak, Tuhan telah memasang alarm dalam tubuh kita, yang akan berbunyi ketika kita melakukan kesalahan. Kalau masih tersentuh oleh kesalahan itu, mungkin saja itu rahmat Tuhan yang membuka jalan agar kita mengubah jalan pikiran kita.

Dalam hidup ini, di setiap interaksi sosial kita dengan sesama manusia atau alam, selalu ada kesempatan untuk mengambil pelajaran untuk peningkatan kualitas diri sendiri ke depannya. Inilah universitas kehidupan yang tidak mungkin didapatkan dalam ruang-ruang kelas. Tetapi, dalam kehidupan sosial yang kita hadapi. Masalah dan pengalaman hidup akan menuntun kita untuk belajar. Menelaahnya ke dalam diri sendiri dan mengambil pelajaran di dalamnya adalah hikmah. Karena selalu ada hikmah di setiap kejadian. Dan kita akan terus belajar dalam kehidupan ini. 



Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar: 9)


Melbourne, 31.12.16

Jadilah yang Baik


“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kerugian kejahatan itu untuk dirimu sendiri..” (Q.S. Al Isra: 7)

Mungkin tidak ada yang tahu amalan-amalan apa dari kita yang bisa mendatangkan berkah dalam kehidupan kita. Yang kita tahu bahwa setiap perbuatan baik akan mendatangkan kebaikan dalam hidup. Setiap niat yang baik, Allah akan bukakan dan tunjukkan jalannya. Lingkungan dan orang-orang baik di sekeliling kita adalah pertanda bahwa Allah ingin memberikan kebaikan dalam hidup kita.

Bahkan orang-orang yang terjaga dan menjaga diri adalah bukti kasih sayang dan balasan Allah atas perbuatan baik yang mungkin sering ia lakukan. Dalam sebuah hadis dikatakan, siapa yang ingin kebaikan maka Allah akan tunjukkan jalan menuju kebaikan tersebut. Begitu luasnya rahmat Allah kepada mereka yang senantiasa ada niat baik dalam hatinya.

Disadari atau tidak, kita memperbaiki diri adalah jalan membuka kesempatan agar yang baik-baik datang dalam kehidupan kita. Misalkan rezeki-rezeki yang kita tidak tahu dari mana datangnya. Atau terhindarnya kita dari musibah-musibah. Mungkin semua itu adalah berkah dari akumulasi dari perbuatan baik yang pernah kita lakukan. 

Memperbaiki diri salah satunya juga adalah jalan untuk menyeleksi pasangan hidup. Allah-lah yang menyeleksinya lebih dahulu. Allah ingin mendatangkan yang baik-baik bagi hamba-Nya yang senantiasa memperbaiki diri atau menjaga diri dari yang buruk. Maka hendaknya setiap hamba senantiasa berusaha untuk terus meng-upgrade diri baik dalam hal ibadah, akhlak, dan ilmu pengetahuan hanya untuk Allah semata. 

Kalau kita berbicara jodoh. Setiap orang tentu menginginkan jodoh yang baik. Ini sudah seringkali kita dengar bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, juga sebaliknya (An Nur: 26). Tetapi, jodoh itu bukan hanya tentang cerminan diri. Ada peluang untuk saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing, saling memperbaiki, saling menguatkan. Dan mungkin juga bisa saling melangit bersama. Memiliki visi yang tidak berhenti di dunia tetapi sampai ke surga, yakni tujuan dan cita-cita tertinggi umat manusia.

Jadi, jika kita baik, taat, bagus akhlak dan perilakunya, berusaha terus memperbaiki diri dan menjauhkan diri dari keburukan, insyaAllah, Allah akan mempertemukan orang yang serupa. Semoga siapapun yang membaca ini segera dipertemukan dengan jodoh yang baik.

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa" (Al Maidah: 2)

Melbourne, 12 Desember 2016

:: the photo was taken in Schonborn Park, Vienna