Pernikahan: Rumah Terbaik Meneduhkan Rasa


Barangkali perjalanan panjang cinta dimulai dari pernikahan. Pasangan yang menjalin cinta sebelum pernikahan sejatinya sedang membangun rumah yang sewaktu-waktu bisa roboh karena pondasi yang tidak kuat. Sewaktu-waktu penghuninya bisa kabur karena sudah tak nyaman di rumah. Hubungan yang hanya sewaktu-waktu.

Sementara pernikahan adalah awal sebuah perjalanan panjang yang tujuannya menembus dimensi. Kita menyebutnya surga. Dan jalan-jalan menuju surga tidak seindah imajinasi kita tentang surga itu. Tidak semulus jalanan yang berhamparkan permadani. Tetapi, bukankah dengan agama kita bisa melewati setiap liku jalannya?

Pernikahan adalah rumah terbaik dimana kita meneduhkan rasa yang sebelumnya gagu untuk kita perbincangkan, atau menenangkan kerinduan yang dulunya tak tahu untuk siapa. Pernikahan adalah kapal yang hanya akan selamat jika penumpanya saling bekerja sama untuk mengarahkan kapal hingga sampai ke tujuan yang benar.


Tapi, kapal itu butuh penunjuk arah agar terhindar dari ketersesatan. Agar selamat mengarungi samudera. Penunjuk arah itu adalah pemahaman agama yang baik. Kita akan terus belajar sampai kapal kita tiba dengan selamat. 


Ramadan Day 6, 1439 H 

photo credit: Maslihatul Bisriyah

Semakin Sama Visimu, Semakin Mungkin Kamu Berjodoh




Bagaimana cara mengetahui bahwa dia adalah jodoh yang baik untukmu?

Baik yang pacaran apalagi yang tidak pacaran, masalah jodoh tetaplah misteri. Yang berpacaran pun belum tentu tahu bahwa pasangannya sekarang adalah jodoh terbaik. Karena biasanya, hubungan seperti ini penuh kepalsuan. Mereka selalu menampilkan kebaikan dan menyembunyikan sisi-sisi negatifnya. Kita belum bisa mengenal seseorang sampai kita hidup bersama. 

Melalui tulisan ini, setidaknya saya akan mencoba memberi tips bagaimana mengetahui apakah dia cocok untukmu. Tetapi kamu harus ingat kata Khalil Gibran, bahwa cinta itu bukan lahir dari perkenalan yang lama tetapi kecocokan jiwa. 

"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad." - Khalil Gibran-

Nah bagaimana kamu bisa mengenal kecocokan jiwa ini? Kenali visi dan misi si dia. Semakin sama visimu, semakin mungkin kamu berjodoh. Saya akan mulai dengan kisah saya. 

Sejujurnya saya mengenal suami sudah bertahun-tahun lamanya. Tapi tidak pernah ada komunikasi dan kontak. Kalau dari versi saya, saya bertemu pertama kali di acara English Corner di TVRI Makassar. Waktu itu saya jadi bintang tamu karena baru pulang dari Amerika, sekitar pertengahan 2011. Dan jreng..jreng dia adalah presenternya 😜 Impresi saya waktu itu, "Ini orang kok cerewet banget ya😏" Haha.. Tapi wajarlah pembawa acara memang harus cerewet. Dan ternyata si suami tidak ingat momen ituπŸ˜’. Lalu, versi dia. Katanya kita bertemu pertama kali di acara reuni sesama alumni beasiswa Amerika di salah satu mal di Makassar. Dan saya tidak ingat sama sekali kejadian tersebut πŸ˜….

Saya jadi ingat kutipan tulisan saya di buku Musim Penantian, "Bisa jadi jodoh serupa itu, ada kisah kita yang beririsan di masa lalu." Dan betul itu terjadi dalam diri saya πŸ˜‡. Saya dan suami memang punya irisan di masa lalu. 
 

Waktu berlalu. Sampai pada akhirnya kita bertemu kembali di grup WA LPDP LN Makassar tahun 2015. Waktu itu si suami memperkenalkan diri karena baru jadi awardee. Sementara saya tinggal menghitung hari berangkat ke Melbourne. Duh kayak kenal orang ini. Dan akhirnya aku sapa. Waktu itu entah kenapa seperti sudah kenal lama padahal baru ketemu face to face sekali doang. Singkat cerita, sampailah takdir mempertemukan kami di kota Melbourne 2016-2017.

Nah, kita lanjut pembahasan tadi. Kami memang taarruf seperti orang pada umumnya, tukar biodata dengan perantara ustadz, tapi saya sudah kepo tentang visi orang ini. Saya menemukan kesamaan banyak hal dari cara kita memandang sesuatu. Saya tidak perlu berkompromi tentang pemikiran-pemikirannya. Bagaimana dia memandang sesuatu, begitu pula saya memandangnya. Itu dari perspektif saya sih, entah apakah dia merasa sevisi dengan saya πŸ˜‚. Mungkin sederhananya, tidak banyak hal yang dipertentangkan. Saya pun berpikir, mungkin Tuhan menjodohkan saya dengan suami karena alasan-alasan di atas. Semakin sama visimu, semakin mungkin kamu berjodoh.


Jadi, saran saya, kamu perlu kepo sedikit tentang visi dan misinya. Bisa melalui pertanyaan langsung, perantara, atau gunakan skil kepo di medsos πŸ˜†. Tetapi, ini tidak boleh dijadikan pegangan. Karena mungkin saja ada orang sudah merasa visi dan misinya sama tetapi belum berjodoh. Meski saya selalu melihat di sekitar saya, teman-teman, senior-senior dan junior-junior yang pada akhirnya berjodoh karena memang memiliki visi dan misi yang sama. Tidak banyak hal yang dipertentangkan. Benar kan?

Tulisan ini bukan bermaksud mengabaikan akhlak dan agama ya. Karena karakter tidak seperti visi yang bisa disamakan. Karakter perempuan dan lelaki pasti berbeda. Tapi, saya berusaha mencari ruang kesesuaian yang bisa kita bayangkan akan seperti apa menjalani kehidupan ke depan. Mempelajari visi dan misi calon pasanganmu sangat mungkin mendatangkan kecocokan yang kamu harapkan. 
 
Selanjutnya, jangan pernah lupa, istikharah adalah cara meminta yang paling indah. Jika memang semakin didekatkan Insyaallah dialah jodoh terbaik. Tetapi, jika semakin dijauhkan, mungkin belum berjodoh. So, kenali baik-baik visi si dia ya πŸ˜‰

Ramadan Day 4, 1439 H
Ditulis dalam perjalanan Polewali-Majene πŸ˜… 
Hari minggu tetap mengajar demi kebahagiaan mahasiswa yang mau cepat-cepat pulkam.


photo credit: Maslihatul Bisriyah 

Kamu Pun Bisa Kuliah ke Luar Negeri




Tulisan ini saya buat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan beberapa mahasiswa saya, “Bagaimana caranya bisa kuliah di luar negeri, Bu?”

Dan tidak sesederhana yang kalian bayangkan untuk bisa menjawab pertanyaan dari anak daerah dengan berbagai keterbatasan yang mereka hadapi. Saya akan mulai menguraikan satu per satu mengapa setiap orang bisa meraih cita-citanya, termasuk kuliah ke luar negeri. Dan tulisan ini akan memberikan tips yang mungkin kebanyakan saya singgung dari perspektif psikologi. Tulisan ini adalah motivasi secara umum yang belum saya jabarkan langkah-langkah praktisnya.

Tidak semua orang memiliki kesempatan bisa kuliah ke luar negeri. Dan ini sangat saya syukuri mengingat saya besar di daerah yang bisa dibilang akses informasi pendidikan sangat terbatas. Beruntung bisa kuliah di salah satu universitas ternama. Akhirnya bisa bertemu dengan orang-orang yang punya semangat juang untuk meraih prestasi dan berkompetisi secara positif.

MINDSET

Baiklah, saya akan mulai dari bagaimana kamu mesti menghapus mental block dari dalam dirimu bahwa kamu “TIDAK BISA.” Semua orang memiliki kesempatan yang sama. Semua orang memiliki waktu dan potensi yang sama asalkan kamu mau berjuang. Ketika mahasiswa saya menanyakan hal tersebut, saya kemudian bertanya, sudah berapa buku yang kamu baca? kalau pada kenyataannya mereka masih malas membaca, malas menambah ilmu, saya tidak akan lanjut dengan nasihat bahwa kamu harus punya skil bahasa asing. Jika “mindset” saja belum terpola dengan baik, akan sulit bagi kamu untuk bertahan dalam perjuangan ini. Maksud saya daya juang untuk maju dan daya tahan dalam proses ini yang belum dimiliki. Memotivasi mereka yang seperti ini harus dimulai dengan mengubah mindset. Bukan karena mereka tidak bisa dan tidak mau, tetapi mereka belum terbiasa dengan kultur belajar dan berkompetisi.

BAHASA

Nah, jika mindset pembelajar sudah dipahami dan diaplikasikan, saya akan mencoba memberi solusi bahwa kamu harus bisa menguasai bahasa internasional. Banyak orang yang ingin sekali ke luar negeri. Tetapi, ketika ditanya bagaimana dengan kemampuan bahasanya, belum bisa menjawab apa-apa. Padahal kunci dasarnya adalah kemampuan berbahasa asing, minimal bahasa inggris. Untuk belajar bahasa asing tidak didapatkan dalam waktu singkat, tetapi bertahun-tahun. Jadi, anggap sekarang kamu masih duduk di semester 2 atau 4, maka pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar bahasa inggris hingga kamu bisa cakap ketika lulus kuliah. Karena kamu akan berkenalan dengan tes seperti TOEFL dan IELTS. Tes ini adalah tiket masuk kuliah ke luar negeri. Tes seperti ini tentu sangat sulit bagi pemula yang baru belajar bahasa inggris. Ada banyak cara mudah dan murah belajar bahasa Inggris. Dengan memanfaatkan media sosial kamu bisa mendapatkan platform belajar bahasa dengan gratis. Kuncinya adalah bersungguh-sungguh.

FINANSIAL (BEASISWA)

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan finansial. Kampus manapun sebenarnya bisa menerima kalian jika kemampuan finansialnya mumpuni, karena di sana juga ada istilah bridging (belajar bahasa inggris untuk mencapai standar sebelum masuk kuliah). Tetapi, rata-rata ekonomi rakyat Indonesia tidak mampu untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup di luar negeri yang pendidikannya bagus. Hanya sebagian kecil saja yang berangkat karena beasiswa dari orangtua. Oleh karenanya kita butuh beasiswa untuk mewujudkan mimpi kita bisa belajar ke luar negeri. Beasiswa tentu tidak bisa didapatkan dengan mudah. Karena para penyeleksi akan melihat track record kalian selama ini. Rekam jejak inilah yang menentukan apakah kalian layak jadi penerima beasiswa atau tidak. Bisa dibilang, seperti apa kalian menjalani hidup selama ini dibuktikan dengan curriculum vitae yang menerangkan keterampilan akademis, sosial, dan prestasi-prestasi kalian.

Maka sangat penting untuk mengubah pola pikir dan pola sikap sekarang juga. Jika masih malas-malasan. Seperti malas membaca, malas belajar, malas berdiskusi, malas cari informasi maka jangan harap kamu bisa menciptakan rekam jejak yang baik untuk kehidupan yang kamu impikan. Motivasi juga harus dijaga. Bisa dengan berkumpul dengan orang-orang yang punya semangat belajar, berprestasi dan meraih mimpi. Kuliah ke luar negeri sebenarnya bukanlah suatu keharusan. Tetapi, setidaknya memberikan pengetahuan baru dan pengalaman baru untuk bisa kita aplikasikan di tanah air. Sekaligus ini menjawab pertanyaan orang-orang kepada saya, “Kenapa kamu mau mengajar di daerah, sementara kamu lulusan luar negeri?” Hmm… ini bentuk tanggung jawab moral saya. Termasuk tanggung jawab kepada pemberi beasiswa. Setidaknya saya berbagi ilmu dan pengalaman dulu pada daerah tempat saya dilahirkan. Sejujurnya, saya tidak bisa memberikan apa-apa selain motivasi kepada mahasiswa-mahasiswa. Saya ingin sekali membuka cara pandang mereka, bahwa di luar sana dunia lebih luas untuk dijelajahi. 

Pada akhirnya kita butuh doa dan usaha yang baik. Usaha tidak akan sukses tanpa doa. Sama halnya doa tidak akan terkabul jika usaha biasa-biasa saja. Kita butuh dua modal ini untuk bisa meraih hal yang dicita-citakan. Dan kita harus mengerti bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Jadi jangan pernah menyerah jika masih gagal. Karena kegagalan sesungguhnya adalah jika kamu tidak pernah mencoba.

Ramadan Day 3 1439 H

Menikahi Orang yang Dicintai atau Mencintai Orang yang Dinikahi

Gambar terkait 

                                                                                       
Tiba-tiba saya menulis ini, karena rasa penasaran orang-orang tentang bagaimana saya memutuskan untuk menikah dengan suami saya. Well, tidak ada yang spesial. Sama seperti kisah-kisah cinta orang lain di dunia nyata. Oh ya, jangan terlalu dibawa baper drama korea yang penuh drama .

Ok, dua frase di atas sebenarnya tidak ada yang salah. Jika kamu menikahi orang yang kamu cintai alangkah lebih baik. Karena setelah menikah, kamu akan setiap hari bertemu dengan pasanganmu dan hidup seatap dengannya. Kamu akan berinteraksi dengannya setiap saat. Dan keuntungan jika kamu menikahi orang yang kamu cintai adalah kamu akan mudah ikhlas melayani. Dengan begitu ketaatan lebih mudah kamu raih.

Karena "cinta" lah yang membedakan dalam teori hubungan apakah kita melakukannya karena komitmen semata atau karena ada "passion." Seseorang yang menikah tanpa cinta akan melalui banyak tahapan untuk bisa menumbuhkan rasa ketertarikan. Mereka memulai hubungan dengan komitmen. Kalau cinta belum tumbuh, bisa jadi mereka seperti robot yang berinteraksi tanpa ada ruh cinta di dalamnya. Saya menilai hubungan seperti ini akan kering. Akan sulit meraih keikhlasan dalam melayani. Kalau kita tidak ikhlas, bukankah pahalanya berkurang. Mungkin sebab itu, rasul menghendaki kita menikahi orang yang kita cenderungi.

Tetapi, ini bukan alasan saya menyetujui hubungan pacaran sebelum pernikahan. Jelas ini tidak ada tuntunannya. Yang saya maksud, jika kamu tahu telah menyukai seseorang, karena kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya, mengapa tidak menempuh jalan yang mulia untuk menyampaikan minatmu. Rasa cinta kepada lawan jenis itu anugerah yang menandakan kita masih normal. Kalau kamu malu, ah saya perempuan. Bisa melalui perantara yang amanah. Tidak ada yang tidak mungkin. Bukankah kita tidak pernah tahu pada usaha yang keberapa kita akhirnya bertemu jodoh. Jadi kalau tak berusaha, nanti tak ketemu-ketemu jodoh . Oh ya, berdoa juga termasuk usaha. Jangan pernah lupakan ini.

Selanjutnya, mencintai orang yang dinikahi. Ini tentu sangat mulia. Karena biasanya mereka memilih seseorang karena dorongan iman semata. Sangat tidak mudah mencapai derajat iman seperti ini. Mereka telah memasrahkan segala munajatnya kepada Tuhan, bahwa jika Tuhan melancarkan maka saya akan memilih dia. Ada banyak kisah rumah tangga sukses yang dimulai dengan komitmen seperti ini. Mereka telah siap menanggung resiko jika kelak sulit mencintai pasangan hidupnya. Tetapi, mereka percaya bahwa waktu akan menumbuhkan rasa cinta dalam diri mereka. Mereka memberikan kesempatan pada waktu untuk mencintai dan menyayangi pasangannya melalui interaksi yang ada. Dalam banyak kasus, saya melihat mereka pun sukses menjalin cinta dan kasih sayang.

Kalau dalam bahasa hadis, tidak akan rugi orang yang istikharah, tidak akan menyesal orang yang musyawarah. Musyawarah kepada orang-orang yang salih. Intinya, minta petunjuk sama Allah swt. Sangat penting dimulai ketika kamu mulai jatuh cinta atau memiliki kecenderungan kepada seseorang. Terlebih lagi jika kamu mulai memilih seseorang. Percayalah, Allah tidak akan menyia-nyiakan doa-doa hambNya. Allah senantiasa mendengar semua rintihanmu. Allah pasti memberikan jalan terbaik. Kamu hanya perlu berkorban sedikit, entah perasaan atau yang lainnya hehe. Allah juga sangat ingin melihat kesabaranmu dan komitmenmu dalam menjaga diri dan berusaha yang terbaik. Bukankah Allah akan menurunkan berkahnya setelah usahamu jatuh.

Sesungguhnya, tidak menikah, belum menikah, menikah, long-distance marriage, menikah belum dikarunia keturunan, yang sedang hamil, yang sudah memiliki keturunan adalah semuanya baik. Allah hendak menguji dari fase yang sedang kita lalui. Allah sekali-kali tidak menilai dari statusnya, tetapi amal-amalnya. Siapa yang lebih banyak amal salihnya. Jadi fokus kita semestinya adalah menjadi sebaik-baik hamba.

:: Teruntuk teman-teman yang masih menanti dan mencari. Kencangkan doa di ramadan kali ini

Ramadan Day 2, Jumat, 1439 H

sumber foto: https://techcrunch.com

Pernikahan: Upaya Mencintai Allah dan Syariat-Nya




Pernikahan bukan hanya bersatunya dua hati, bukan pula tentang cinta dua anak manusia yang telah halal. Pernikahan itu adalah syariat Allah. Perkara mencintai Allah dan syariat-Nya. 

Pernikahan adalah ibadah kepada Allah. Pernikahan adalah komitmen kita kepada Allah. Pernikahan adalah cara kita untuk semakin dekat kepada Allah. Kita akhirnya bisa saling menemukan dan menyemai cinta karena kita lebih dulu mencintai Allah dan syariat-Nya. Jika menikah tidak membuat kita lebih baik, jika menikah menjauhkan kita dari usaha mendekati Allah, berarti ada yang perlu dibenahi dari tauhid kita.


Pernikahan adalah upaya untuk bertumbuh. Bertumbuh dengan amal-amal shalih. Karena pernikahan itu telah melipatgandakan pahala lelaki dan perempuan. Kita tidak dinikahkan karena alasan cinta dan kecenderungan semata, tetapi karena Allah telah menjodohkan. Karena Allah telah memilih aku dan kamu menjadi kita. Pernikahan adalah rumah dimana kita merawat rindu, memadamkan ego, dan menumbuhkan kasih sayang.

Kalau kata D'masiv,
"bukan aku yang mencarimu,
bukan kamu yang mencari aku,
cinta yang mempertemukan,
dua hati yang berbeda."

Dua Orang Asing

 

 Kita adalah dua orang asing yang dipertemukan oleh Tuhan melalui jalan takdirNya. Kita menikah. Alasan yang cukup kuat untuk beribadah. Saya mungkin tak tahu banyak tentangmu. Sama seperti saya seorang perempuan asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupmu. 

Ini adalah sebuah awal bagaimana kita akan saling mengenali. Mengenali kekuatan dan kelemahan masing-masing. Karena perkenalan terlama bisa jadi ditemui sepanjang usia pernikahan. Ada ruang proses belajar untuk kita saling memahami dan melengkapi.

Pada akhirnya kita harus belajar mengelola pertemanan seumur hidup ini. Karena kelak kita akan saling menemui kekurangan-kekurangan. Tapi, apalagi yang tak kita syukuri. Ketika kita dipertemukan dalam keadaan yang Insyaallah baik. Jangan lupa bahagia. Nasihati saya dengan baik.

sumber foto: https://tadabburdaily.wordpress.com
Diberdayakan oleh Blogger.